Generasi Milenial Harus Dekat dengan Sarung Nusantara

412

Jakarta, Muslim Obsession – Samuel Wattimena, staf khusus Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga tak menampik bahwa kepopuleran sarung saat ini kalah dari batik. Karena itu, agar semakin populer, ia mengatakan sarung harus lebih didekatkan kepada generasi milenial.

Samuel mengatakan masalah yang dihadapi sarung saat ini bukanlah kurangnya pesanan bagi pengrajin, tetapi soal keterikatan emosional antara sarung dan generasi muda.

“Keunikan dan kelebihan sarung kita itu adalah ada ribuan desa yang memproduksinya dan memiliki ciri sarung berbeda-beda itu nggak ada di belahan dunia manapun. Tapi kekayaan itu nggak akan jadi apa-apa kalau tidak dikenal generasi selanjutnya,” kata Samuel di Jakarta, Sabtu (23/3/2019).

Ia mengaku memang membutuhkan media untuk mendekatkan sarung dengan generasi muda. Tak hanya fesyen show, baginya sangat penting untuk membuka ruang dialog bagi genetasi milenial dengan para pengrajin sarung yang ada di desa. Hal itu demi menyambungkan hasil produksi dan keinginan dari generasi muda.

“Saya melihat motif sarung masih yang itu-itu saja, pengulangan. Sementara generasi yang sekarang belum ada keterwakilan. Kalau ada dialog, pengrajin bisa tahu minat generasi muda itu seperti apa, sedangkan anak muda bisa lebih memahami makna motif pada sarung,” katanya.

Belum lama ini, Samuel yang juga salah satu perancang busana ternama itu menjadi kurator dalam acara Fesyen Show Festival Sarung Indonesia 2019 di Atrium Mall Senayan City. Acara gesyen show ini digelar atas kolaborasi antara Smesco Indonesia dengan Senayan City.

Direktur Utama Smesco Indonesia, Emilia Suhaimi mengatakan fesyen show ini digelar dalam rangka mempromosikan sarung-sarung nusantara. Maupun untuk mempromosikan sarung sebagai salah satu warisan budaya Indonesia dan mentransformasikan sarung sebagai trendsetter serta gaya hidup modern bagi generasi milenial.

“Kita ikut fesyen show 20 setel dengan bawahan sarung. Ini sebagai bentuk dukungan kita atas terlenggaranya Pameran dan Festival Sarung Indonesia 2019 ini,” kata Emilia, Jumat (22/3/2019).

Dalam upaya mempromosikan sarung di masyarakat, pemerintah harus melakukan kerja sama dengan desainer – desainer mode agar sarung semakin disukai generasi milenial. Dengan demikian diharapkan bisa mendorong popularitas kain sarung sebagai bagian dari gaya hidup kaum milenial.

Menurut Emilia apabila Sarung telah membumi dan sudah menjadi budaya di semua lapisan masyarakat. Maka sektor Industri dan usaha mikro kecil dan menengah ikut menikmati berkah dan ekonomi kerakyatan kembali bergeliat.

“Ini juga untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan untuk para UMKM kita,” katanya.

Emilia menyebut, banyak pengrajin yang gulung tikar karena popularitas sarung dianggap sudah menurun, oleh karena itu publik perlu diingatkan lagi pada sarung agar bisa kembali populer seperti batik.

“Inti dari fesyen show ini adalah untuk membantu memajukan perekonomian rakyat terutama pengrajin sarung dimana di setiap sudut Indonesia kita punya sarung yang beragam,” ucap dia.

Dalam acara Fesyen Show tersebut, Smesco Indonesia juga menghadirkan 5 desainer, yaitu Gianti Creation by Lala Gozali, Dayankina by Ina, Hessandra by Fanti, Klambi Abite by Novi dan Tika. Desainer yang hadir sudah melalui tahapan seleksi dan kurasi dari Samuel Wattimena sebagai desainer senior di dunia fesyen.

Sedangkan Produk produk yang dihadirkan berupa kain lurik, kain batik, dan kain dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tenun Kalimantan Timur.

Pengunjung yang hadir sangat antusias dengan keindahan kain nusantara yang disajikan. Garuda Indonesia menyatakan sangat tertarik bahkan menawarkan kesempatan desainer UKM Smesco untuk dipromosikan di Majalah Infligt Magazine Garuda. (Has)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here