Gadis Cantik dan Metromini

842
Metromini

SEBUAH sore di Jl. Fatmawati Raya, pukul 16.30. Ini kisah tentang seorang gadis cantik penumpang metromini jurusan Blok M-Pondok Labu. Usianya kira-kira tak lebih dari 20 tahunan.

Rambut hitam panjangnya digelung sedikit dengan tali pengikat rambut berwarna pink. Baju merahnya dengan kancing atas sedikit terbuka bersanding indah dengan rok mini denim berwarna biru sedikit menghitam. Tas kecil hitam yang di gendongnya melengkapi tampilan sempurna gadis itu. Melihat tampilannya, ia mungkin seorang mahasiswi atau sales promotion girl.

Masuk melalui pintu depan metromini, si gadis mengambil tempat duduk bersebelahan dengan seorang kakek yang telah setia duduk sejak dari Blok M. Si kakek bergeser sedikit untuk memberikan lebih banyak ruang bagi si gadis.

“Alhamdulillah, tidak terlalu macet. Baru pulang kerja, Nak?” tanya si kakek, tiba-tiba.

“Eh, tidak, Kek. Saya mau berangkat kuliah,” jawab si gadis sambil tersenyum sopan.

Mendengarnya si kakek mengangguk pelan. Tapi tak sampai semenit, ia kembali bertanya.

“Mau permen, Nak?” si kakek terlihat menawarkan dua buah permen. Satu masih terbungkus, sementara satunya lagi sudah terbuka.

“Terima kasih, Kek,” ujar si gadis. Ia terlihat tak canggung menerima tawaran si kakek. Tangannya segera meraih sebuah permen yang masih terbungkus rapi.

Lho, kenapa kamu ambil permen yang masih terbungkus rapi, Nak? Bukankah ada permen yang sudah dibuka bungkusnya?” tanya si kakek.

“Mohon maaf, Kek. Saya lebih memilih permen yang masih terbungkus, soalnya saya khawatir jika permen yang bungkusnya terbuka itu sudah banyak kotorannya,” jawab si gadis.

“Ooh begitu,” si kakek tersenyum.

“Yaah, begitulah juga hakikatnya dengan perempuan, Nak,” imbuh si kakek.

Si gadis menoleh. Ia mulai meraba-raba ke mana arah ucapan si kakek. Lalu, ia pun bertanya, “Maksud kakek?”

“Permen yang kakek tawarkan itu hanya perumpamaan, Nak..”

“Perumpamaan dari apa?”

“Iya. Setiap lelaki yang baik, pasti lebih memilih perempuan yang baik. Apalagi jika perempuan itu akan diperistrinya. Umumnya lelaki, memang lebih tertarik memandang perempuan yang pakaiannya terbuka dibandingkan perempuan yang pakaiannya sopan tertutup. Umumnya lelaki pasti ingin memilikinya karena perempuan itu berpenampilan menarik dan mampu membangkitkan syahwatnya.

Tapi percayalah, Nak. Setiap lelaki yang baik, nuraninya lebih memilih perempuan dengan pakaian sopan tertutup. Kenapa? Si lelaki khawatir jika perempuan dengan pakaian terbuka itu jangan-jangan sudah dipenuhi kotoran, jangan-jangan sudah banyak tangan lelaki yang menjamahnya.

Hanya lelaki dengan cara pandang, pikiran, dan perilaku yang cenderung tidak baik saja yang mau mengambilnya sebagai pendamping hidup. Lelaki yang baik hanya akan memilih perempuan yang baik. Demikian pula sebaliknya.”

Si gadis termenung mendengarkan. Meski tersindir, hatinya membenarkan apa yang dikatakan kakek itu.

“Mohon maaf lho, Nak. Kamu itu cantik, masih sangat muda. Siapapun lelaki yang melihatmu pasti tertarik. Tanpa berpakaian terbuka seperti ini pun kamu tetap terlihat cantik, karena kamu memang memiliki kecantikan yang alami. Tapi, bukankah kamu juga kelak ingin memiliki suami yang baik luar-dalam? Suami yang setia, tak selingkuh, dan memiliki kepribadian mulia? Jika iya, mulailah dari dirimu sendiri. Mulailah dari cara berpakaian yang sopan dan tak mengundang mata nakal para lelaki. Insya Allah, kakek doakan supaya kamu mendapatkan lelaki pilihan yang baik, sayang sama kamu dan anak-anakmu kelak.”

Terus memberikan nasihat kepada si gadis, wajah si kakek terlihat begitu tenang dengan sorot mata yang menyejukkan dan bibir yang selalu tersenyum. Sementara si gadis masih termenung dengan mata yang menatap wajah si kakek.

Tepat saat metromini berhenti di perempatan jalan Fatmawati, si kakek bersiap untuk turun.

“Nah, sekarang kakek pamit. Mohon maaf jika perkataan kakek tidak membuatmu berkenan,” ujar si kakek sambil berdiri.

Tiba-tiba tangan si kakek dipegang oleh si gadis. Dengan wajah sumringah, si gadis menatap lekat pada wajah lelaki tua di hadapannya.

“Terima kasih, kakek. Saya sungguh berterima kasih atas nasihatnya. Insya Allah saya akan segera berubah. Mohon doanya dan terima kasih banyak.”

Si kakek mengangguk. Ia segera turun dengan bibir yang terus tersenyum. [Dzunnurayn]

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here