Fatimah, Sosok Ibu Bagi Ayahnya (1)

4419
Fatimah Az-Zahra

Muslim Obsession – Julukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra begitu mulia, yakni ummu abiha atau ibu bagi ayahnya. Ya, Fatimah seperti ibu bagi Rasulullah Saw. karena cinta dan pembelaan anak kesayangannya itu terhadap perjuangan beliau.

Lahir pada tanggal 20 Jumadil Tsani tahun ke lima hijriah, Fatimah merupakan anak keempat dari rahim wanita terbaik, Khadijah binti Khuwailid.

Sosok wanita yang sangat zuhud dengan kenikmatan duniawi, seperti dalam firman Allah yang berbunyi, “Katakanlah, perhiasan dunia itu sedikit, dan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisa: 77).

Kelahiran Fatimah bertepatan dengan peristiwa besar, yakni ditunjuknya Nabi Muhammad Saw. sebagai penengah saat terjadi perselisihan di antara suku-suku Quraisy. Perselisihan itu dipicu persoalan siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah selesai direnovasi.

Atas izin Allah, Muhammad Saw. pun berhasil menjadi penengah dari persoalan yang hampir menyebabkan terjadinya perang di antara kabilah-kabilah yang ada di Makkah tersebut.

Kelahiran Fatimah itu tentu saja disambut gembira oleh Nabi Muhammad Saw. Saat itu beliau sudah melihat pada diri putrinya itu tanda-tanda kebersihan dan kebaikan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw. memberinya nama Fatimah denga gelar Az-Zahra (yang bersinar wajahnya).

Kendati demikian, kehidupan Fatimah kecil berlangsung getir. Saat Fatimah berusia 5 tahun, Allah Swt. menurunkan wahyu kepada ayahnya. Sejak itulah, Fatimah mulai merasakan beratnya tekanan sebagai dampak dari tugas dakwah Rasulullah Saw. Fatimah juga menyaksikan bagaimana ibunya seteia mendampingi dan membantu ayahnya dalam segala hal.

Fatimah juga turut merasakan kesulitan yang dialami kaum muslimin serta Bani Hasyim dalam keluarga Abu Thalib saat pemboikotan oleh kaum kafir. Pemboikotan secara ekonomi dan sosial ini memengaruhi pertumbuhan fisik Fatimah, sehingga ia tumbuh menjadi seorang yang lemah fisiknya.

Kondisi itu dirasakan semakin berat saat ibundanya, Khadijah berpulang. Sejak saat itulah, Fatimah kecil sekuat tenaga mengambil peran ibundanya untuk mendampingi Rasulullah Saw.

Kisah Ummu Abiha ini, antara lain, terekam dalam kecamuk Perang Uhud. Dalam pertempuran ini, Nabi terluka terkena hantaman dua bongkah batu di dahi dan mulut beliau. Akibat cedera ini, darah membasahi janggut Nabi dan beliau kehilangan sejumlah giginya.

Melihat itu, seorang kafir Quraisy berteriak lantang hingga terdengar oleh semua kaum Muslim, “Muhammad telah terbunuh!!”

Sontak, ucapan kafir itu membuat kekacauan di kalangan kaum Muslim. Kebingungan juga menggelayuti keluarga-keluarga Muslim yang tinggal di Madinah yang tidak ikut berperang. Tak terkecuali Fatimah.

Bersama Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi, Fatimah pergi ke Uhud. Ketika mendengar tentang cedera ayahnya, Fatimah mulai menangis dan kaum perempuan Bani Hasyim bergegas membantunya.

Sampai di Uhud, Fatimah segera melihat kondisi ayahandanya dan mulai membersihkan wajah beliau. Menyaksikan sosok mulia itu berdarah, Fatimah pun berkata, “Hukuman Allah akan berat bagi siapapun yang menyebabkan wajah Rasul berdarah.”

Sang suami, Ali bin Abi Thalib, dating membantu. Ali menuangkan air ke wajah Nabi, namun itu tak menghentikan pendarahan. Maka Fatimah pun membakar beberapa utas tali dan memupurkan abunya ke luka itu, yang akhirnya menghentikan perdarahan.

Fatimah melewati saat-saat ini dalam kesedihan dan kecemasan besar. la adalah seorang putri yang sangat mencintai ayahnya. (Reska/dari beragam sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here