Falaa Tuzakkuu Anfusakum!

139

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Ada sesuatu yang kurang pas dalam upaya memperbaiki lingkungan sosial sekitar kita. Upaya Yang saya maksud adalah keinginan, bahkan yang tulus sekalipun, untuk memperbaiki manusia di sekitar kita. Dan ini terjadi kerap tanpa disadari. Biasanya karena keinginan keras (azam) sebagian untuk segera terwujudnya suasana sempurna, sesuai idealisme yang diyakini.

Dalam upaya memperbaiki apa Yang kita anggap tidak baik, ada beberapa hal yang harusnya dihadirkan di benak kita.

Pertama, dalam hidup ini segala sesuatu memiliki prosesnya masing-masing. Tidak ada yang secara tiba-tiba sempurna dan ideal seperti yang diharapkan.

Beberapa kali saya kembali ke Indonesia dan mendengar keritikan keras kepada saudari-saudari kita mulai berjilbab (menutup kepala) tapi masih memakai pakaian Yang kurang layaknya sebagai pemakai jilbab. Baju yang agak ketat misalnya.

Saya paham keingin sempurnaan itu. Tapi saya sayangkan jika saudari-saudari kita itu menjadi target kritikan, bahkan kerap dengan cara yang kasar, hanya Karena belum sempurna (ideal) dalam melakukan ajaran agamanya.

Bukankah semua berproses? Dan tidakkah lebih bijak jika sebaliknya, justeru diapresiasi apa yang telah dia capai (lakukan), walau tidak sempurna?

Kedua, dalam upaya memperbaiki ada masa-masa untuk kita meletakkan diri kita pada posisi mereka. Kita harus menyelami mentalitas dan lingkungan di mana mereka terkurung.

Saya seringkali dikritik oleh teman-teman karena saya hadir dan menikahkan pemuda-pemudi Muslim-Muslimah di tengah-tengah pergaulan yang jauh dari idealisme lingkungan Islami. Pakaian wanita yang kurang sopan, ada musik dan dance, dan lain-lain.

Banyak yang tidak paham bahwa dengan menghadirkan saya dan menikahkan mereka secara Islam sudah sebuah hasil yang luar biasa. Mentalitas dan lingkungan mereka mengatakan: apa bedanya dengan kehadiran seorang Imam dengan caranya dan menikah di kantor catatan sipil dengan seorang Hakim?

Memahami mentalitàs dan keadaan lingkungan yang mengungkung mereka menjadikan kita harusnya justeru mengapresiasi kenyataan bahwa mereka sudah menerima urgensi dan menghormati ajaran Islam dalam pernikahan.

Ketiga, yang paling berbahaya adalah ketika Melihat orang lain kurang dari diri kita. Merasa kita lebih Islami, bahkan sempurna dalam berislam. Sementara orang lain yang akan selalu nampak adalah kekurangan dan kesalahannya.

Saya pernah mengirim foto sebuah acara Islam di kota New York. Dalam foto itu ada beberapa hadirin dari kalangan wanita yang tidak berjilbab. Justeru Yang saya terima adalah “kok acara Islam tapi pakaiannya tidak Islami”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here