Dzikir dalam Arti Sempit dan Luas Menurut Quraish Shihab

36
Prof. Quraish Shihab dan Najwa Shihab dalam Shihab & Shihab.

Jakarta, Muslim Obsession – Berdzikir adalah amalan paling ringan yang bisa dilakukan seorang Muslim untuk mengingat Allah. Dengan dzikir seorang bisa tetap selalu terjaga dan ingat betapa semua dalam kekuasaan dan genggaman Allah. Prof M Quraish Shihab berpendapat bahwa dzikir dapat dipahami dalam arti sempit dan luas.

“Para ulama yang berkecimpung dalam bidang olah jiwa mengingat bahwa dzikir kepada Allah SWT secara garis besar dapat dipahami dalam pengertian sempit dan dapat juga dalam pengertian luas,” kata Prof M Quraish Shihab dalam bukunya ‘Wawasan Al-Quran Tentang Dzikir dan Doa’.

Menurut Prof Quraish, dalam pengertian sempit dzikir adalah yang dilakukan dengan lidah saja. Dzikir dengan lidah ini adalah menyebut-nyebut Allah SWT atau apa yang berkaitan dengannya seperti mengucapkan tasbih tahmid, tahlil dan takbir, hauqalah, dan lain-lain.

‘Bisa juga mengucapkan lidah disertai dengan kehadiran kalbu, yakni membaca kalimat-kalimat tersebut disertai dengan kesadaran hati tentang kebesaran Allah SWT yang dilukiskan oleh kandungan makna kata yang disebut-sebut itu,” katanya.

Kehadiran dalam kalbu atau benak dapat terjadi dengan upaya pemaksaan diri untuk menghadirkannya dan dapat juga merupakan tingkatan yang lebih tinggi tanpa pemaksaan diri. Sedangkan peringkat dzikir yang tertinggi atau lebih luas adalah larutnya dalam benak orang yang berzikri, sesuatu yang diingat itu, sehingga ia terus-menerus hadir walaupun seandainya ia hendak dilupakan.

“Sebaliknya, berdzikir dengan lidah semata adalah peringatan dzikir yang terendah,” katanya.

Kendati demikian dzikir dengan lidah tidak luput dari manfaat walau hanya sedikit dan karena itu pesan orang-orang arif kepada mereka yang baru sampai pada peringatan terendah ini agar jangan meninggalkan dzikir.
Kata mereka bersyukur dan pujilah Allah SWT yang telah menganugrahkan salah satu anggota badan, yakni lidah, untuk melakukan dzikir kepada Allah SWT. Dan berupayalah untuk menghadirkan kalbu saat menyebut nyebutnya.

“Rasulullah SAW pun pernah menasihati seorang sahabat beliau yang mengeluh berkata.”

Sesungguhnya banyak pintu-pintu kebajikan. Aku tidak dapat melaksanakan seluruhnya, maka beritahulah aku sesuatu yang dapat ku bergantung padanya dan janganlah memperbanyak pesananmu sehingga menjadi aku lupa.”

Nabi memberinya petunjuk dengan bersabda hendaklah lidahmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah.”(HR At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban melalui Abdullah bin Busr).

Dengan seringnya lidah menyebut-nyebut nama Allah SWT, maka paling tidak sebagian di antara kalimat-kalimat terucap itu akan berbekas di dalam hati dan ini pada gilirannya dapat mengantar pada kesadaran tentang kehadiran Allah SWT dan kebesaran Allah, walau untuk tahap pertama tidak selalu demikian.

Dzikir dalam pengertian luas adalah kesadaran tentang kehadiran Allah SWT di mana dan kapan saja, serta kesadaran akan kebersaman-Nya dengan makhluk; kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya, terhadap apapun di alam raya ini serta bantuan dan pembelaanNya terhadap hamba-hambaNnlya yang taat. Dzikir yang dalam peringatan inilah yang menjadi pendorong utama melaksanakan tuntunanNya dan menjauhi laranganNua, bahkan hidup bersamaNya.

Ketika itu, seperti yang dilukiskan oleh Sufi besar Abu Al-Qasim al-Junaid 910M:

“Dia tidak menoleh kepada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim dengan Tuhan melalui dzikir, senantiasa menunaikan hak-hakNy. Dia memandang kepadaNya dengan mata hati, terbakar hatinya oleh sinar hakikat Ilahi, meneguk minum dari gelas cinta kasihNya, tabir pun terbuka baginya sehingga sang Maha Kuasa muncul dari tirai-tirai gaibNya, maka tatkala berucap, dengan Allah dia, tatkala berbicara, demi Allah dia, tatkala bergerak, atas perintah Allah dia, tatkala diam, bersama Allah dia. Sungguh dengan, demi, dan bersama Allah selalu dia.” (Albar)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here