Bukan Mereka yang Gila, Tapi Kitalah Sejatinya yang Gila

157
Ilustrasi: Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Apa yang seringkali terbersit dalam hati atau pikiran, ketika menjumpai orang yang tidak waras di jalan? Orang tidak waras dengan pakaian compang-camping, atau kadang tanpa pakaian, rambut lusuh dan badan kotor?

Boleh jadi yang kadang atau bahkan sering terbersit atau keluar dari lisan kita adalah ucapan: dasar orang tidak waras, dasar orang gila.

Ketahuilah, mereka itu sesungguhnya tidak waras karena pikiran mereka telah diambil oleh pencipta-Nya, yakni Allah Ta’ala.

Kelakuan mereka memang di luar kewarasan atau sering disebut gila (orang dengan gangguan jiwa), tapi jangan lupa catatan segala keburukan mereka sudah ditutup dan tidak dicatat lagi oleh malaikat karena sudah tidak memiliki kesadaran.

BACA JUGA: Mengenal Tajdidun Nikah atau Memperbaharui Nikah

Sejatinya, ada renungan yang seharusnya bisa kita petik dan ambil hikmahnya ketika menjumpai orang-orang tersebut. Terkadang kita tidak sadar bahwa dalam kesadaran kita yang masih normal sebenarnya kitalah yang “gila”.

Ya, gila dalam hakikat sebenarnya, yaitu ketika kita:

GILA KEHORMATAN merasa diri yang paling suci.

GILA PUJIAN karena segala perbuatannya.

GILA KEDUDUKAN sehingga segala macam cara ditempuh walaupun haram dan penuh maksiat di mata Allah.

GILA JABATAN sehingga main sikut sana-sini, tidak peduli kawan ataupun lawan.

GILA HARTA, menumpuk numpuk harta sementara zakat, sedekah serta infak tidak dilakukan.

GILA PAMER dalam segala hal kehidupannya.

GILA DUNIA dengan mengejar materi duniawi dengan melupakan bekal untuk “pulang” ke kampung akhirat.

BACA JUGA: Bolehkah Shalat Witir Setelah Tahajud, Meski Sudah Witir Ba’da Isya?

Alangkah ruginya kita jika memiliki kegilaan seperti di atas. Karena dalam kesadaran, sejatinya kitalah yang gila karena telah hanyut dalam bujuk rayu dan tipu daya setan dengan penuh kesadaran ataupun tanpa sadar.

Cobalah perhatikan, diri kita sesungguhnya sudah terjerumus ke dalam penyakit tidak WARAS, yakni cinta terhadap perhiasan pernak-pernik dunia yang ujung-ujungnya kelak di hadapan Allah dan malaikat-Nya kita baru tersadar betapa ruginya hal demikian itu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجِاىٓءَ يَوْمَئِذٍۢ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسٰنُ وَأَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰى – يَقُولُ يٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى

“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini,” (QS. Al-Fajr [89]: 23-24).

Demikian, semoga menjadi renungan. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here