BPH Migas Dukung Kerja Sama Pencanangan Pertashop di Pondok Pesantren

64
Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa menghadiri acara penandatanganan MoU antara Pertamina, MES dan BSI. Dilangsungkan di BSI, Jl Gatot Subroto no. 27 Jakarta, Jumat (4/6/2021). (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – BPH Migas mendukung penuh kerja sama Pertamina, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam pencanangan Pertashop di pondok pesantren.

Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa, menyebutkan bahwa pihaknya bertugas melakukan pengaturan dan pengawasan untuk menjamin ketersediaan dan distribusi BBM di seluruh NKRI termasuk di dalamnya Pengaturan Pertashop yang merupakan bentuk Penyalur Skala Kecil (mini spbu non subsidi).

“Ini sesuai dengan UU Migas pasal 8 dan 46 tentang tugas BPH Migas. Kali ini saya diundang untuk hadir Halal Bihalal, juga menyaksikan penandatanganan MoU ini melanjutkan sinergitas dengan Kementerian BUMN yang dipimpin Pak Erick Thohir yang sekaligus Ketua Umum MES, dimulai dengan peresmian Pertashop di Cilacap, dilanjutkan pertemuan dengan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah di kediaman Wantimpres Habib Luthfi bin Yahya,” ujar Fanshurullah.

BACA JUGA: Menjaga Tradisi Intelektual, BPH Migas Terbitkan Buku Jargas di Ultah ke-18

Menurutnya, saat ini BPH Migas juga bekerja sama dengan UGM sudah dalam tahapan finalisasi membuat peraturan Penyalur Skala Kecil (PSK) ini, dimana ada ketentuan jarak antara mini penyalur juga terhadap Penyalur Utama (SPBU).

Saat ini sudah ada Pertamina dengan Pertashop, juga Exxon Mobil dengan microsite-nya yang sudah jalan dengan total sekitar 1.750 lokasi tersebar di Tanah Air. Dan dalam waktu singkat juga akan masuk ke mini SPBU atau microsite BBM dari grup British Petrolium (BP) dengan AKR.

“BPH Migas menilai bahwa ini positif karena masyarakat berhak untuk mendapatkan alternatif pilihan BBM non-subsidi dan berkualitas yang akan semakin banyak dan sekaligus membantu pemerintah juga masyarakat perubahan alamiah konsumsi BBM dari premium/pertalite ke RON 92 yang lebih baik bagi lingkungan,” jelasnya.

Pembangunan Ekonomi Syariah

Halal Bihalal MES dihadiri tokoh-tokoh nasional di antaranya Ketua Dewan Pembina KH. Ma’ruf Amin, Ketua Dewan Penggerak Mohammad Mahfud MD, Ketua Umum MES Erick Thohir dan jajaran pengurus lainnya, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa, Dirut PT Pertamina Nicke Widyawati, Dirut BSI Hery Gunardi, juga tokoh-tokoh lainnya.

Dalam kegiatan tersebut sekaligus dilangsungkan penandatanganan MoU antara Pertamina, MES dan BSI, Jumat (4/6/2021).

Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin dalam sambutannya mengatakan, pembangunan ekonomi syariah sudah memasuki babak baru dengan terbentuknya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah pada 2020.

BACA JUGA: Wujudkan Ekonomi Kerakyatan, Kepala BPH Migas Dukung Pendirian Pertashop di Pesantren se-Indonesia

Menurutnya, kunci untuk percepatan pembangunan ekonomi syariah terletak kepada sinergi berbagai pihak yang menggeluti ekonomi syariah.

“Karena visi pembangunan ekonomi dan keuangan syariah harus dilalukan secara berjamaah melalui saling tolong, gotong royong,” kata Ma’ruf Amin.

Sementara itu, Erick Thohir menyampaikan bahwa dirinya sebagai Ketua Umum MES yang juga telah diberi pesan oleh Wakil Presiden untuk menciptakan keseimbangan ini dalam mendorong perekonomian untuk rakyat dan umat.

“Untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan perekonomian yang seimbang untuk umat dan rakyat, dibutuhkan support system dan kontinuitas,” ujar Erick.

BACA JUGA: Erick Thohir Ingin Pertashop Jadi Salah Satu Basis Penguatan Ekonomi Umat

Menurutnya, MES harus menjadi lokomotif penggerak ekonomi berbasis syariah yang unggul dan berkelanjutan, mendorong sinergi atau kemitraan antara pengusaha besar dan pelaku usaha mikro dan kecil.

Erick mencontohkan pencanangan kerja sama 1.000 Pertashop antara Pertamina dengan pesantren yang didukung BSI sebagai salah satu langkah kongkrit pemberdayaan ekonomi syariah di lingkunga pesantren. “Harapan saya kerja sama antara MES dan BUMN bisa diperluas cakupannya,” imbuh Erick.

Erick menegaskan, untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan perekonomian, iklim investasi diciptakan tidak untuk kepentingan semua kalangan.

“Tidak hanya investor asing tapi, tapi juga lokal, tidak hanya memajukan ekonomi perkotaan tapi juga desa, tidak hanya mendorong start up, tapi juga bagaimana koperasi dan warung bisa berkembang,” pungkas Erick. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here