Blessings in Disguise

526

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

“Mereka berencana, dan Allah berencana. Tapi Allah adalah sebaik-baik perencana,” (Al-Quran).

Dalam mengarungi samudra luas perjuangan menghadirkan cahaya Ilahi ke sudut-sudut penjuru dunia, berbagai gelombang ombak menghalang di tengah samudra luas itu. Gelombang samudra yang menggunung itu kerap kali menjadikan jiwa-jiwa kerdil membangun pessimisme dan putus harapan.

Masih terbayang di hadapan mata, terngiang di telinga suara-suara pessimisme dan kekerdilan itu ketika terjadi 9/11 beberapa tahun silam. Banyak yang beranggapan bahwa peristiwa itu akan menjadi “kuburan” bagi dakwah dan Islam di Amerika dan dunia Barat umumnya. Bahwa Islam telah mati, dan tidak mungkin lagi akan diterima di belahan bumi Allah yang bernama Amerika itu.

Manusia rupanya gagal paham jikalau yang memegang kendali bumi dan langit adalah Pencipta keduanya. Kontrol pergerakan urat nadi alam semesta terkendali ketat di antara jari jemari Yang Maha Qadiir (Kuat, Penentu). Maka persangkaan pessimis itu dibalik oleh Yang Maha Kuasa menjadi bangunan optimisme dan harapan setinggi langit.

Peristiwa yang disebut-sebut sebagai kuburan Islam, justeru berbalik menjadi momentum awal kebangkitan dakwah di bumi Amerika. 9/11 dinilai puncak atau klimaks tumbuhnya kesalah pahaman terhadapat Islam, yang mengantar kepada kematian pergerakan dakwah di bumi ini. Ternyata sangkaan itu berbalik menjadi awal kebangkitan warga Amerika untuk memahami Islam yang sesungguhnya.

Warga Amerika berbondong-bondong mencari tahu apa sesungguhnya Islam itu. Al-Qur’an dan buku-buku menjadi bacaan terlaris saat itu. Masjid-masjid dan pusat-pusat agama Islam (Islamic Centers) menjadi destinasi kunjungan yang laris. Pemimpin Muslim (Imam) menjadi obyek undangan ke mana-mana, termasuk kantor-kantor pemerintahan, rumah-rumah ibadah agama lain, hingga media massa menjelaskan Islam yang sejati.

Mereka mencari, mendalami, memahami dan menghayati, dan akhirnya menemukan Islam yang sejati. Bahkan banyak di antara mereka yang awalnya mencari Islam untuk tujuan negatif.

Masih teringat cerita suzan, warga Philadelphia, yang pernah mengambil S2 (Master Degree) di Oxford University Inggris di bidang International Security beberapa tahun silam. Salah satu subjek di bawah departemen itu adalah studi agama-agama dalam hubungannya dengan international terrorism (terorisme internasional).

Suzan saat itu memiliki pemahaman yang sangat buruk mengenai Islam. Bahkan dia benar-benar yakin jika Islam adalah sumber terorisme dunia modern. Maka di kelas agama-agama dunia dan terorisme internasional itu, dia betul-betul menaruh perhatian secara khusus tentang di mana dasar dan arah Islam dalam menyebarkan terorisme dunia.

Diam-diam dia membeli Al-Qur’an dan membacanya untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang relasi antara terorisme dan Islam. Ternyata di luar bayangan dia, semakin dia mencari keburukan Al-Quran, tanpa dia sadari hatinya semakin tersentuh dan tertarik untuk mendalaminya.

Kurang dari dua tahun dia membaca Al-Quran, bahkan sekembali ke US dan kerja di kota New York, Suzan masih melanjurkan mencari hakikat Al-Qur’an itu. Dan menurutnya, yang saya temukan “nothing but jewels” (semuanya mutiara-mutiara).

Suzan akhirnya memeluk Islam di Islamic Center New York, lalu bekerja sebagai sebagai Executive Director di sebuah organisasi nirlaba MCN (Muslim Community Networking) di kota New York.

Cerita Suzan hanya satu dari sekian fakta terbalik dari logika manusia. Bahw sebuah peristiwa kelam, bukan berarti selamanya membawa hasil kelam. Juseru kobaran api menjadi “penyelamat” (salaaman) bagi Ibrahim AS. Maka 9/11 juga yang dianggap kuburan Islam itu berbalik menjadi momentum kebangkitan Islam di negara ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here