Bisa Ditiru, Begini Cara Belajar Tegakkan Keadilan

250

Muslim Obsession – Islam menjunjung tinggi tegaknya keadilan. Tidak hanya untuk dan antarumat Islam, melainkan juga untuk seluruh umat manusia. Itulah substansi Islam yang hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Upaya menegakkan keadilan, salah satunya bisa diwujudkan ketika kita bisa berkontribusi untuk mengubah kemungkaran yang terjadi di depan mata.

Ada banyak ayat dan hadits yang menerangkan pentingnya keadilan dan perintah untuk menegakkannya. Salah satunya, adalah hadits Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman,” (HR. Muslim, no. 49)

Terkait hal ini, kita bisa mulai belajar pada kisah yang viral di sejumlah WhatsApp Group berikut ini:

Alkisah, seorang Dosen mata kuliah Hukum bertanya pada salah seorang mahasiswa:

“Siapa namamu?”

Mahasiswa itu menyebutkan namanya,

“Ali Marwah, Pak.”

Tiba-tiba saja sang Dosen mengusirnya tanpa sebab.

Mahasiswa itu berusaha membela diri, tapi sang Dosen malah membentaknya. Akhirnya ia keluar dengan perasaan terzhalimi.

Mahasiswa yang lain hanya diam.

Setelah itu sang Dosen memulai kuliah. Ia lalu bertanya kepada para mahasiswa, “Untuk apa undang-undang dibuat?”

Salah seorang mahasiswi menjawab, “Untuk mengontrol perilaku manusia.”

Mahasiswa lain menjawab, “Untuk diterapkan!”

Yang lain menjawab, “Agar yang kuat tidak menzhalimi yang lemah.”

Sang Dosen berkata, “Benar…tapi semua itu tidak cukup!”

Tiba-tiba salah seorang mahasiswi mengacungkan tangan dan berkata, “Untuk mewujudkan keadilan!”

Dosen berkata, “Benar! Itulah jawabannya, agar tercipta keadilan! Tapi pertanyaannya, apa gunanya keadilan?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Agar hak semua orang terjaga dan tidak ada yang terzhalimi!”

Dosen bertanya, “Sekarang jawab dengan jujur dan tak perlu takut…Apakah saya telah berlaku zhalim pada teman kalian ketika saya mengusirnya dari kelas?”

Mereka kompak menjawab, “Iyaa..!”

Dosen bertanya dengan nada tinggi:

“Lalu kenapa kalian diam saja dan tidak memberikan pembelaan?! Apa guna undang-undang dan hukum kalau kita tidak memiliki keberanian untuk menerapkannya? Ketika kalian diam saja disaat seseorang dizhalimi, dan kalian tidak berusaha membela yang benar maka kalian akan kehilangan kemanusiaan kalian. Dan, kemanusiaan tidak bisa ditawar-tawar..!”

Kemudian sang Dosen memanggil si Ali Marwah, mahasiswa yang diusirnya tadi, lalu meminta maaf padanya di depan seluruh mahasiswa.

Kemudian ia berkata, “Ini saja pelajaran untuk hari ini. Kalian mesti berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari selama kalian hidup”.

“Berapa banyak orang yang diam melihat kezhaliman, ketidak-adilan bahkan berkawan akrab dengan pelaku kezhaliman hanya karena ingin mendapatkan KENYAMANAN”.

Pelajaran dari sebuah sikap dan perbuatan jauh lebih berarti daripada pelajaran dari sebuah nasehat.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here