Bertemu Komunitas Muslim Rusia (Bagian 2)

758

Menikmati Madu Hutan di Baskhortostan

Ufa ibukota Baskhortostan merupakan salah satu kota besar di Rusia. Penduduknya sekitar 1 juta jiwa. Total penduduk Baskhortostan berjumlah 4 juta jiwa. Mayoritas penduduknya (60%) beragama Islam.

Islam diperkirakan masuk Rusia pada tahun 992 masehi melalui etnis Bulgar yang hidup di Siberia. Dari Siberia, Islam kemudian menyebar ke berbagai wilayah Rusia, terutama etnis-etnis yang hidup di kawasan pegunungan Kaukasus, seperti Dagestan, Ingusethia, Chechnya, dan lain-lain.

Seperti halnya kota-kota di Rusia, jalan-jalan di kota Ufa sangat besar dengan trotoar yang besar juga. Kotanya sangat tertib dan rapih. Pepohonan sangat terawat dan terjaga. Banyak hutan di pinggiran kota. [Baca: Bertemu Komunitas Muslim Rusia (Bagian 1)]

“Di Baskhortostan orang tidak boleh sembarangan menebang pohon di hutan. Untuk menebang sebatang pohon harus izin dan biasanya izinnya baru keluar setelah berbulan-bulan. Karena itu hutan mereka sangat bagus dan menghasilkan madu hutan yang diekspor ke sejumlah negara,” tutur Kang Aher.

Madu dari Baskhortostan sangat unik karena memiliki berbagai rasa. Jenis pohon atau bunga tempat lebah liar tersebut berkembang biak, jenisnya sengaja dibuat berbeda. Salah satu yang khas adalah madu dengan rasa mint.

Penduduk Baskhortostan terdiri dari etnis Tartar, Bashkir dan Rusia. Karena itu di jalan-jalan kota bisa melihat wajah dari berbagai etnis yang cukup kontras. “Ada yang sebagian berwajah Eropa dan ada lagi yang berwajah Asia. Mirip-mirip orang Mongol dan Cina,” tambah Kang Aher.

Walaupun kebanyakan anak mudanya berpakaian modern ala barat, namun banyak juga yang mengenakan busana muslim tradisional.

Bashkortostan adalah negara bagian federasi Rusia yang dulunya dipimpin oleh seorang presiden. Sekarang namanya diganti menjadi Kepala Republik atau kalau di Indonesia levelnya sama dengan seorang gubernur. Selain itu mereka juga mempunyai perdana menteri dan para menteri. Barangkali kali bila di Indonesia bisa disamakan dengan seorang Sekretaris Daerah (Sekda) dan para kepala dinas.

Kepala Republik (presiden) Bashkortostan saat ini adalah Rustem Khamitov yang merupakan anggota Partai Rusia Bersatu pimpinan Presiden Rusia Vladimir Putin. Partai Rusia Bersatu menguasai mayoritas kursi di parlemen Bashkortostan. Dari total 110 anggota parlemennya 97 diantaranya berasal dari partai pendukung Putin.

 

Dirintis tahun lalu

Dubes RI untuk Rusia dan Belarus Wahid Supriyadi sejak tahun lalu sudah merintis hubungan sister province dengan Baskhorkostan. Ketika bertemu Rustem Khamitov, Wahid menawarkan kerja sama tersebut karena melihat banyak kesamaan antara Baskhortostan dan Jabar. “Berpenduduk muslim, pusat industri dan pertanian. Keduanya bisa saling melengkapi,” ujar Dubes Wahid.

Selain itu untuk pendidikan, Baskhortostan mempunyai sejumlah perguruan tinggi yang sangat bagus dan banyak menerima mahasiswa dari berbagai negara. Kelebihannya, biayanya sangat murah, sangat jauh jika di bandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.

Tawaran tersebut disambut baik oleh Khamitov. Kedatangan Kang Aher ke Ufa merupakan tindaklanjut kesepakatan tersebut. Untuk menjalin kerjasama sister province harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari DPRD. Sebagai tahap awal Kang Aher yang didampingi sejumlah kepala dinas menandatangani letter of intent.

Selain bertemu Kepala Republik Rustem Khamitov, Kang Aher yang didampingi oleh Wakil Dubes RI Lasro Simbolon juga bertemu dengan ketua parlemen dan Rektor Ufa State Petroleum Technological University (USPTU), Prof. Bakhtizin Ramil.

Di kampus UPSTU dari 20.000 orang mahasiswanya, 8.000 diantaranya adalah mahasiswa asing dari 44 negara. Mahasiswa yang berasal dari Indonesia ada sembilan orang. “Tadinya ada 10 orang mahasiswa Indonesia. Tapi satu orang sudah tamat,” tutur Kang Aher.

Kepada Prof Ramil, Kang Aher menjelaskan dari sejumlah perguruan tinggi terbaik di Indonesia, empat di antaranya berada di Jabar, yakni UI di Depok, IPB di Bogor, Unpad dan ITB di Bandung. Kang Aher menawarkan kerja sama bea siswa untuk pertanian di IPB dan Perminyakan di ITB. Kedua komoditi tersebut merupakan salah satu andalan Baskhortostan.

“Kami juga akan mencari bibit-bibit unggul di Jabar untuk dikirimkan belajar ke Ufa,” ujar Aher.

Perguruan tinggi di Ufa punya keunggulan di bidang teknik, karena mesin-mesin pesawat Sukhoi diproduksi disini dan juga teknik perminyakan. Biaya hidup di Ufa sangat murah, hanya sekitar Rp 2.5 juta/bulan.

Pemerintah Baskhortostan berjanji akan menanggung separuh dari beasiswa yang dibutuhkan dan sisanya akan ditanggung Pemprov Jabar.

Selain ke IPB dan ITB, pemerintah Baskhortostan sangat tertarik untuk mengirim pelajar dan mahasiswanya belajar masalah agama Islam ke Indonesia.

Selain masalah pendidikan Kang Aher juga menjajaki kerja sama dibidang pertanian. Baskhortostan dikenal sebagai penghasil komoditi pangan dan sayur mayur, terutama tomat, mentimun dan gandum.

Teknologi pertanian mereka sangat modern dan mengadopsi teknologi semi hydroponic dalam greenhouse. Untuk tomat tinggi/panjang tanamannya bisa mencapai 15 meter. Dalam sekali musim tanam setiap pohon bisa menghasilkan sampai 13 kg. Sementara untuk gandum yang merupakan makanan pokok, mereka mengalami surplus.

Ketika bertemu Menteri Perdagangan Enggartiasto di Moskow, Kang Aher menyampaikan tawaran tersebut. Impor gandum Indonesia menurut Mendag mencapai 9 juta ton/tahun. Sangat terbuka kemungkinan kerjasama impor gandum.

Walaupun hanya berlangsung singkat selama dua hari, kunjungan Kang Aher kota Ufa menghasilkan banyak kesepakatan rencana kerjasama sister province. Peran Kedubes RI di Moskow yang telah lebih dahulu merintis kerjasama antar kedua provinsi, membuat kunjungan tersebut berlangsung lancar dan efektif. (Redaksi) (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here