Berpisah 18 Tahun di Penjara Israel, Pasangan Palestina Ini Akhirnya Menikah

119
Pernikahan (Ilustrasi)

Palestina, Muslim Obsession – Jinan Samara akhirnya bisa mengenakan gaun pengantinnya untuk menikah dengan Abdel Karim Mukhader. Upacara pernikahan keduanya itu akan menjadi acara yang mengaduk emosi yang telah ditunda paksa selama 18 tahun.

Pada Ahad lalu, pengantin pria akhirnya dibebaskan dari hukuman penjara yang dijatuhkan di bawah pendudukan Israel di Tepi Barat.

Mukhader, pria berusia 49 itu baru berusia 31 tahun saat dipenjara, tapi cintanya pada Samara semakin kuat selama bertahun-tahun di balik jeruji besi.

Sementara calon istrinya sedang menunggu di pos pemeriksaan militer Jalamah Israel untuk menyambutnya dengan buket bunga dan pelukan manis setelah dibebaskan dari pusat penahanan Majiddo di Tepi Barat yang diduduki.

“Saya tidak pernah kehilangan harapan bahwa cinta kami akan menang pada akhirnya. Saya tidak ragu-ragu sejenak dalam memutuskan untuk bersabar dan menunggu dia, dan keluarga saya tidak ikut campur dalam keputusan saya, tapi mendorong dan mendukung saya,” kata Samara kepada Arab News, dikutip Rabu (30/9/2020).

“Kisah saya adalah satu dari ribuan perempuan yang menderita karena penindasan penjajahan. Di banyak rumah ada istri atau ibu syuhada atau tawanan,” tambahnya.

Selama tunangannya dipenjara, Samara, seorang pengawas pendidikan di sekolah Kementerian Pendidikan di kota Salfit, Tepi Barat, mengunjunginya setiap kali otoritas Israel mengizinkan dan membantunya belajar di universitas.

Berkat dorongannya, Mukhader memperoleh gelar master dalam studi Israel melalui Universitas Al-Quds.

Pada malam pertama kebebasannya dalam 18 tahun, pasangan itu tetap terjaga merencanakan pernikahan mereka. “Kami ingin menggunakan setiap menit untuk bersama-sama di rumah kami setelah bertahun-tahun menjauh dan kehilangan,” kata Samara.

Mukhader mengatakan dia tidak akan pernah melupakan tahun-tahun pengabdian dan pengorbanan tunangannya. “Jika saya menawarinya dunia dengan apa yang ada di dalamnya, saya tidak akan memenuhi haknya. Wanita Palestina selalu berdampingan dengan pria yang membayar pajak pendudukan dan ketidakadilan.

“Namun terlepas dari kegembiraan saya dalam kebebasan dan bertemu Jinan dan orang yang saya cintai, hati saya masih bersama ribuan tahanan, rekan-rekan saya, yang menderita penindasan dan ketidakadilan di penjara pendudukan,” tambahnya.

Dilaporkan ada sekitar 5.000 tahanan Palestina yang saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, di antaranya wanita dan anak-anak, dan Mukhader mencatat bahwa kondisi narapidana telah memburuk sejak wabah penyakit coronavirus (COVID-19).

“Pelukan kembali kebebasan dan pembebasan dari penjara pendudukan merupakan akta kelahiran baru untuk setiap narapidana,” tuturnya.

“Penjara itu seperti kuburan, dan waktu di dalamnya lambat dan berat. Dengan berlalunya tahun, narapidana kehilangan kemampuan untuk memahami nilai menit dan jam,” ungkap dia.

Dia mengatakan saat terburuknya di penjara adalah ketika dia menerima berita kematian ibunya. “Saya merasa bahwa jeruji penjara diterapkan dengan kasar ke hati saya.”

Setelah menikah, Mukhader berencana menyelesaikan pendidikan tingginya dan meraih gelar doktor di bidang ekonomi politik, sebelum memperjuangkan kebebasan mantan rekannya di penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here