Beliau, Ayah yang Sempurna

845
Hendrianti Sahara Nasution. (Foto OMG).

Jakarta, Muslim Obsession “Ayah adalah segalanya, beliau seperti guru dan sosok kepala rumah tangga yang sempurna, meskipun manusia itu tidak ada yang sempurna. Sampai saat ini, saya bersyukur kepada Allah SWT, mendapatkan Ayah sepertinya.”

Pertemuan Men’s Obsession dengan Hendrianti Sahara Nasution, di Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Jakarta menjadi pengalaman menarik. Pasalnya, putri sulung pasangan Jenderal Besar A.H. Nasution dan Johanna Sunarti ini menguntai sisi personal sang ayah yang tidak banyak orang tahu.

Kami seakan dibawa untuk menelusuri kenangan masa kecil antara perempuan yang akrab disapa Yanti itu bersama Pak Nas. “Ayah itu tidak pernah marah pada saya, beliau seperti seorang guru yang selalu berbicara dan mencontohkan yang baik,” ungkapnya seraya tersenyum.

Pak Nas, sambung Yanti, selalu memupuk nilai-nilai kesederhanaan. “Ayah itu aneh dan lucu, tidak mengenal dan mengerti harga uang. Bahkan, kalau mendapat rezeki, ayah selalu serahkan kepada mamah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Pak Nas, kata Yanti adalah sosok yang sangat sederhana. Sebagai contoh, ia tidak menyukai musik-musik yang tengah menjadi tren, ia hanya suka mendengar murotal atau drumband. “Kalau olahraga, ayah sukanya tenis, seminggu dua kali melakoninya. Sempat main golf, tapi akhirnya beliau berhenti karena katanya golf itu untuk orang-orang kaya. Cerita lain, beliau kan sangat suka menonton berita, lalu saat dirawat di RSPAD terus menonton berita di CNN, itu kan harus pakai parabola. Pas pulang ke rumah, beliau tidak bisa menemukan saluran CNN. Kemudian saya bilang, Maaf ya Ayah, parabolanya belum tumbuh. Sampai segitunya tidak mengerti ayah saya,” beber Yanti.

Pak Nas, imbuh Yanti, saking sederhananya, makanan kesukaannya adalah singkong. “Beliau tidak suka makanan mewah. Apalagi ketika sakit, makanannya sangat sehat karena mamah dan beliau sangat disiplin, jadi yang dimakan, seperti lalapan atau ikan,” tuturnya.

Pak Nas juga membudayakan sikap terbuka, ia selalu bercerita mengenai apapun kepada Yanti, dari mulai sejarah, siapa saja sahabat-sahabatnya, hingga pengalaman hidup. “Misalnya, kalau beliau pergi ke luar negeri atau ke mana pun, beliau akan menceritakan pengalamannya. Menariknya lagi, kalau beliau mendapat buku dari orang, saya selalu diberitahu. Jadi, kami selalu berdiskusi dan kebiasaan ini juga sampai kepada cucu-cucunya. Saya sangat bersyukur pada Allah, mempunyai orangtua sepertinya,” imbuh Yanti.

Kedekatan Yanti dan Pak Nas begitu hangat. “Kami senang pergi berdua, sampai ayah pergi ke tukang cukur saja saya ikut,” kenangnya.

Memori manis lainnya yang terpatri dalam ingatan Yanti adalah ia dan Pak Nas kerap quality time berdua. “Kami senang pergi berdua, ayah ke tukang cukur saja, saya ikut. Ayah juga suka mengajak saya berenang, setelah pulang sekolah atau ketika beliau pulang dari tugas. Kadang kadangkami berenang di tempat Kostrad atau menumpang di rumah sahabat ayah, Pak Kendro. Selain itu, saya selalu diajak ayah nonton bola, saya sangat ingat kala itu beliau selalu membawa tahu yang ditempatkan di kaleng ransum, hahaha,” papar yanti.

Selain itu, saat liburan Pak Nas kerap mengajak keluarga tercintanya untuk ke rumah Om Yanti di daerah puncak, “Kami harus mendaki ke Gunung Mas dengan berjalan kaki, menelusuri perkebunan the, kata ayah supaya sehat. Kalau tidak, kami diajak ke Cilincing untukl berenang,” tutur perempuan yang masih tampak ayu ini.

Dari sekian banyak kenangan indang, ada satu hal yang begitu membekas di hati Yanti, yakni pesan terakhir Pak Nas sebelum mengembuskan nafas terakhirnya. “Beliau sangat dekat dengan saya. Sampai pada akhir hidupnya, saya selalu mendampinginya. Beliau selalu duduk di samping saya. Terakhir, beliau menyerahkan pada saya jam tangan tak bermerek, hanya itu satu-satunya yang beliau punya, cuma itu. Kala itu beliau mengatakan,

“Ini simpan, tapi kamu ingat, kamu bisa tidak kalau nanti ayah tidak ada, kamu itu kuat.”

Sembari berkaca-kaca Yanti melanjutkan ceritanya, “Ayah, Yanti janji, Yanti kuat.”

Pak Nas juga memiliki kebiasaan melihat Yanti sebelum istirahat, “Waktu kecil, ayah selalu mengantarkan saya ke tempat tidur dan itu terbawa hingga saya dewasa. Rumah saya kan di sebelah rumah ayah, setiap malam, sebelum tidur, beliau harus melihat saya. Jadi, beliau baru masuk ke kamar, setelah saya pamit pulang. Itulah contoh bagaimana kedekatan seorang bapak dengan anaknya. Bagaimana beliau selalu bersama saya dalam situasi apapun. Namun, yang terpenting adalah dari beliau saya banyak belajar, yaitu harus sabar, harus sopan dengan setiap orang, dan harus harus bicara yang baik.” (Gia Putri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here