Ayahnya Diculik Saat Shalat Jumat, Habib Umar Kecil Pulang Bawa ‘Syal’ Terakhir

457
Habib Umar bin Hafidz (Foto: M3Romu)

Jakarta, Muslim Obsession – Habib Umar bin Hafidz memiliki kisah tragis yang menimpa ayahnya Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Syaikh Abu Bakr bin Salim.

Ulama Intelektual, dan Da’i besar itu diculik secara tragis oleh kelompok komunis pada tahun 1972, atau pada saat Habib Umar berusia 9 tahun. Hingga kini, sang ayah diperkirakan telah meninggal, semoga Allah menerima amal kebaikannya.

Kronologinya seperti ini, ketika Habib Umar sedang menemani ayahnya untuk shalat Jumat, ayahnya diculik oleh golongan komunis. Sang Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi.

Baca Juga: Tiap Tahun Datang ke Indonesia, Siapa Habib Umar bin Hafidz?

Hal inilah menyebabkan Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang dakwah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum ia mati syahid.

Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai dengan bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk majelis-majelis dan dakwah.

Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di masjid-masjid setempat di mana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al-Quran dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.

Salah satu muridnya yang terkenal di Indonesia adalah Habib Munzir Almusawa yang lulus dari study-nya di Darulmustafa pimpinan Al-Allamah Habib Umar bin Hafidz di Tarim Hadramaut, Yaman. Sejak pulang menuntut ilmu di Yaman, Habib Munzir Almusawa mendirikan Majelis Rasulullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here