Awal Mula Qurban, Kisah Ketaatan Manusia kepada Allah

14684

Nabi Ibrahim As telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail As tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.

Jauh sebelumnya, persitiwa qurban juga pernah terjadi pada masa Nabi Adam As, yaitu saat Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam As. agar mengawinkan Qabil dengan saudara perempuan kembar Habil yang bernama Lubuda yang kurang cantik dan mengawinkan Habil dengan saudara perempuan kembar Qabil yang bernama Iqlima yang lebih cantik.

Pada saat itu Nabi Adam As. dilarang Allah mengawinkan perempuan kepada saudara laki-lakinya yang kembar. Namun Qabil menolak hal ini, sementara Habil menerima. Qabil ingin kawin dengan saudara perempuan kembarnya sendiri yang cantik rupa. Maka Nabi Adam As. menyuruh kedua anaknya untuk berqurban, siapa yang diterima qurbannya, itu yang menjadi suami bagi saudara perempuan kembar Qabil yang cantik.

Nabi Adam As. Berkata kepada anaknya: “Wahai anakku (Qabil dan Habil) hendaknya masing-masing di antara kalian menyerahkan qurban, maka siapa diantara kalian berdua yang qurbannya diterima Allah Swt. dialah yang berhak menikahinya (Iqlima)”.

Pada akhir kisah disebutkan, ternyata qurban yang diterima Allah Swt adalah yang didasarkan atas keihlasan dan ketaqwaan kepada-Nya, yaitu qurban Habil yang berupa seekor domba yang besar dan bagus. Sementara qurban Qabil ditolak karena dilakukan atas dasar hasud (kedengkian). Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk untuk diqurbankan. Qabil yang kalah dalam sayembara qurban akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saudaranya sendiri.

Kisah di atas, kata Wakil Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum, Ahmad Tholabi, mengandung dua makna, yang pertama bahwa kepatuhan hamba kepada Allah Swt. harus melebihi kecintaan dia terhadap dunia dan yang kedua bahwa kepatuhan seorang anak kepada orangtua juga harus melebihi apapun yang dicintai di dunia ini.

“Jadi peristiwa hisotris tersebut menunjukan bahwa ibadah qurban memang merupakan ibadah yang sudah dipraktikan sejak zaman Nabi Adam dan kemudian dilanjutkan peristiwa serupa pada era Nabi Ibrahim,” katanya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here