Awal Mula Kaum Anshar Menganut Islam

358

Muslim Obsession – Pada setiap haji, Nabi Muhammad Saw. mendatangi kabilah-kabilah yang datang ke Baitul Haram untuk membacakan Kitab Allah kepada mereka dan mengajak untuk mentauhidkan Allah. Tetapi tidak seorangpun yang menyambut ajakannya.

Ibnu Sa’d di dalam Thabaqat-nya berkata, “Pada setiap musim haji Rasulullah Saw. mendatangi dan mengikuti orang-orang sedang menunaikan haji sampai ke rumah-rumah mereka dan di pasar-pasar ‘Ukazh, Majinnah, dan Dzi’l-Majaz. Beliau mengajak mereka agar bersedia membelanya sehingga ia dapat menyampaikan risalah Allah, dengan imbalan surga bagi mereka.

Tetapi Rasulullah Saw. tidak mendapat seorangpun yang membelanya. Setiap kali Rasulullah Saw. berseru kepada mereka, “Wahai manusia! ucapkanlah Laa Ilaha Illallah, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika kalian beriman, maka kalian akan menjadi raja di surga.”

Abu Lahab selalu menguntit Nabi Saw. seraya menimpali, “Janganlah kalian mengikutinya! Sesungguhnya dia seorang murtad dan pendusta.”

Sehingga mereka dengan cara kasar menolak dan menyakiti Nabi Saw. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa Nabi Saw. datang kepada Bani Amir bin Sha’sha’ah, lalu mengajak mereka beriman kepada Allah dan menawarkan agama Islam kepada mereka.

Kemudian salah seorang dari mereka. Bahira bin Firas berkata, “Demi Allah, kalau aku mengambil anak muda ini dari Quraisy pasti orang-orang Arab akan membunuhnya.” Selanjutnya dia bertanya, “Bagaimana jika kami berbaiat kepadamu, kemudian Allah memenangkan kamu atas musuhmu, apakah kami akan mendapatkan kedudukan (kekuasaan) sesudahmu?”

Nabi Saw. menjawab, “Sesungguhnya urusan kekuasaan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Bahira bin Firas berkata, “Apakah engkau akan menyerahkan leher-leher kami kepada orang-orang Arab demi membelamu, tetapi setelah Allah memenangkanmu, kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak ada urusan denganmu.”

Kemudian, pada tahun kesebelas dari kenabian, Rasulullah Saw. mendatangi kabilah-kabilah sebagaimana dilakukan setiap tahun. Ketika berada di ‘Aqabah (suatu temat antara Mina dan Mekkah, tempat melempar jumrah, Nabi Saw. bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang sudah dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima kebaikan.

Rasulullah Saw. bertanya kepada mereka, “Kalian siapa?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang dari Kabilah Khazraj.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian dari orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya benar.” Nabi Saw. bertanya, “Apakah kalian bersedia duduk bersama kami untuk bercakap-cakap?” Mereka menjawab, “Baik.”

Lalu mereka duduk bersama beliau. Nabi Saw. mengajak mereka supaya beriman kepada Allah, menawarkan Islam kepada mereka, kemudian membacakan beberapa ayat suci Al-Quran. Di antara hal yang telah mengkondisikan hati mereka untuk menerima Islam ialah keberadaan orang-orang Yahudi di negeri mereka.

Sedangkan orang-orang Yahudi dikenal sebagai ahli agama dan ilmu pengetahuan. Jika terjadi pertentangan atau peperangan antara mereka dan orang-orang Yahudi, maka kaum Yahudi berkata kepada mereka, “Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang Nabi. Kami akan mengikutinya dan bersamanya. Kami akan memerangi kalian, sebagaimana pembunuhan ‘Aad dan Iram.”

Setelah Rasulullah Saw. berbicara kepada mereka dan mengajak mereka untuk menganut Islam, mereka berkata seraya saling berpandangan, “Demi Allah, ketahuilah bahwa dia adalah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepadamu. Jangan sampai mereka mendahului kamu.”

Akhirnya mereka bersedia menganut Islam dan berkata, “Kami tinggalkan kabilah kami yang selalu bermusuhan satu sama lain. Tidak ada kabilah yang saling bermusuhan begitu hebat seperti mereka. Masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan bersamamu, Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepadamu,” tutur mereka.

“Kepada mereka akan kami tawarkan pula agama yang telah kami terima darimu. Apabila Allah berkenan mempersatukan mereka di bawah pimpinanmu, maka tidak ada orang lain yang lebih mulia daripada engkau,” ujar mereka.

Dalam Sirah Nabawiyah diceritakan, kemudian mereka (kaum Anshar) pulang dan berjanji kepada Rasulullah Saw. akan bertemu lagi pada musim haji mendatang. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here