Adang Wijaya, Merawat Bisnis ‘Kentut’ dengan Silaturahim dan Berjamaah

1705

 

Saat ini, ratusan outlet Green Nitrogen tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Pekanbaru, Medan, Aceh, Lombok, Denpasar, hingga Makassar. Memanfaatkan tempat dengan akses mudah tersebut, setiap outlet Green Nitrogen mampu meraup omzet puluhan juta rupiah perbulannya.

Success story Adang tak langsung tertutur indah. Ada onak dan duri di awal perkembangannya. Upaya Ketua Yayasan Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur Bogor ini membuka Green Nitrogen sempat mendapat halangan berat karena dilarang Pertamina. Apalagi Pertamina sebelumnya sudah membuka layanan isi air dan angin gratis di berbagai SPBU miliknya.

“Saya beruntung karena ada sebagian SPBU Pertamina yang dikelola swasta mempersilakan saya membuka outlet di SPBU miliknya. Dari sinilah kisah Green Nitrogen dimulai,” ungkap ayah dua anak ini.

Awal kisah itu terjadi pada akhir 2010. Selanjutnya, keberuntungan menaungi Adang. Tak lama, Elnusa juga mempersilakannya membuat outlet di jaringan SPBU yang mereka kelola. Sejak saat itu, perlahan brand image Green Nitrogen diterima konsumen dan terus merangkak naik. Permintaan angin nitrogen pun meledak.

Berbekal portfolio yang baik, Adang pun kembali menawarkan kerjasama layanan isi angin Nitrogen kepada Pertamina. Usai dilakukan survei, BUMN minyak dan gas ini pun menerima proposal Adang. Bahkan, Pertamina kemudian mewajibkan semua SPBU-nya untuk menyediakan outlet pengisian angin berbendera Green Nitrogen.

Peluang tersebut disambut baik Adang. Green Nitrogen dipacu lebih baik dari segala lini. Ia ubah logo menjadi lebih modern, kemudian menentukan standardisasi outlet beserta layanannya, maupun SDM (operatornya). Setiap pegawai outlet harus mengenakan seragam bersih dan rapi, bila perlu rambutnya harus cepak dan tidak boleh gondrong.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here