Ada Tiga Kelompok Para Penghafal Al-Quran. Anda Termasuk yang Mana?

14778
Ustadz Adi Hidayat
Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA.

Muslim Obsession – Ustadz Adi Hidayat mengatakan, setiap para penghafal Al-Quran akan terbagi menjadi tiga kelompok. Pernyataan ini dikemukakan pendiri Quantum Akhyar Institute dalam sebuah tayangan video yang diunggah di Youtube.

Pertama, menzalimi diri sendiri (dhalimun linafsihi). Zalim ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pada kelompok ini, ada para penghafal Al-Quran yang tidak menempatkan ayat Al-Quran pada tempatnya.

“(Misalnya) seseorang hafal surat Al-Ikhlas dan memahami bahwa cuma Allah itu Esa, tapi ia mengatakan bahwa semua agama itu sama, menuju Tuhan yang sama hanya caranya berbeda. Ini artinya dhalimun linafsihi, ia hafal Al-Quran tapi ayatnya tidak membimbing dia dalam kehidupan,” ujar Ustadz Adi.

Ustadz Adi menjelaskan, jika seorang anak menghafal Al-Quran lalu pulang dengan hati yang lebih tenang, taat, ibadahnya meningkat, berarti anak tersebut berada di tempat belajar yang benar dan belajar pada guru yang benar.

Tapi sebaliknya, kata Ustadz Adi, jika anak tersebut pulang membawa hafalan 30 juz namun perilakunya tidak terbimbing oleh Al-Quran, menjadi sulit diatur, shalatnya telat dan seadanya saja, maka itu musibah.

“Catat baik-baik. Jika Anda menghafal Al-Quran, namun tidak mengubah sifat dan sikap Anda maka pasti ada yang keliru dalam hafalannya,” tegasnya.

“Jangan bangga kepada anak seperti itu. Harus diperbaiki karena ia masuk pada kelompok dhalimun linafsihi,” lanjutnya.

Kelompok kedua adalah waminhum muqtashid, ia merasa belum cukup untuk berbagi. Meski hafal 30 juz, misalnya, ia masih senang memperbaiki bacaan dan hafalannya. Masuk dalam kategori ini adalah para penghafal yang menghafal Al-Quran untuk dirinya sendiri.

“Ini paket hemat, (yaitu) hemat untuk dirinya saja, belum bisa berbagi. Kadang salah, ia perbaiki lagi,” kata Ustadz Adi.

Kelompok yang terakhir ini yang diinginkan. Apa itu? Inilah kelompok sabiqun bil khairat bi idznillah. Seorang penghafal Al-Quran yang baik, ia akan bergegas mengambil nilai-nilai kebaikan karena petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada kelompok ini para penghafal akan senang mengejar kebaikan-kebaikan. Ketika menemukan kebaikan, ia selalu ingin menjadi yang pertama melakukannya.

“Bahkan, jika Anda mulai menghafal Al-Quran tapi sudah terjadi perubahan seperti mulai senang membaca Al-Quran, shalat tepat waktu, maka itulah hafalan yang benar,” jelasnya.

Ustadz Adi pun mengingatkan para orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya ke madrasah atau pesantren untuk selalu memperhatikan perilaku anak-anaknya.

“Saya mohon sekali, cek dulu agar investasi bapak-ibu benar. Ingat baik-baik, lihat perubahan perilakunya. Setelah itu silakan yang lainnya, bagus tajwidnya atau yang lainnya, silakan. Semoga Allah muliakan kita semua, insya Allah,” pungkasnya. (Fath)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here