5 Bukti Kasih Sayang Allah

626

Bogor, Muslim Obsession – Setidaknya ada lima bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Demikian disampaikan Ustadz Hilman Fauzi di depan ratusan jamaah di Masjid Alumni IPB Bogor, Sabtu sore (31/3/2018).

“Pertama, diturunkannya Al-Quran. Karena Al-Quran itu surat cinta dari Allah. Tanda sayang dari Allah untuk hamba-Nya,” terangnya.

“Untuk apa?” sambung beliau. “Agar hidup manusia menjadi benar. Kenapa? Karena manusia sering berbelok. Jadi kalau sering resah, galau dan gelisah. Bisa jadi Al-Qurannya belum dibuka dengan baik,” ujarnya.

Bukti kedua ialah dengan diutusnya para Rasul. Sebaik-baik idola di dunia ini. Ustadz Hilman kemudian melontarkan pertanyaan, “Sudah mengkaji seberapa dalam Shirah Nabawiyah?”

Bukti ketiga ialah diciptakannya alam semesta. Keempat ialah Allah yang Maha Pengampun.

Karena sebanyak apa pun dosa, ketika kita kembali kepada Allah, Allah pasti akan mengampuni. Menurutnya, ada tiga ciri taubat. Pertama berhenti, kedua menyesali dan ketiga berjanji tidak mengulangi.

Ia kemudian mengutip QS. Az-Zumar [39]: (53) yang berbunyi, Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rasa kasih sayang Allah luar biasa. Ustadz Hilman melanjutkan, “Lihat disitu, kata Allah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku’, Allah memanggil dengan lembut dengan panggilan hamba. Bukan dengan kalimat, ‘Wahai orang-orang yang berzina’ atau ‘Wahai orang-orang mabuk’.”

Jadi, kalau sudah kembali kepada Allah, sambung Ustadz Hilman, please istiqamah! Karena kita tidak tahu kita bisa balik lagi atau tidak setelah berpaling.

“Gimana Ustadz kalau taubat terus maksiat lagi, taubat maksiat lagi, dan seterusnya? Allah akan tetap mengampuni. Allah Maha Pengampun, tapi pertanyaannya, mau sampai kapan begitu terus?” tandasnya.

Terakhir, bukti kasih sayang Allah ialah disiapkannya rezeki. Lihat Al-Quran Surat Hud [11]: (6). “Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

“Di sana Allah menggambarkan rezeki dengan makhluk melata, makhluk paling lemah dan tak berdaya. Contohnya cicak pada lagu ‘cicak-cicak di dinding’, cicak kerjanya diam-diam merayap. Cicak gak kerja di kantor, depan laptop, tapi Allah udah kasih rezekinya berupa seekor nyamuk,” ujar Ustadz Hilman.

Cicak akan dapat nyamuk kalau mulutnya terbuka ke atas. Membuka mulut itu bagian dari ikhtiar cicak. Tidak dapat nyamuk, merayap lagi. Diambil cicak lain, merayap lagi diam-diam.

“Artinya, cicak memahami tafsir kata ‘Ala’ pada Al-Quran Surat Hud [11]: (6). yang artinya di atas. Allah tidak menggunakan kata ‘min’ yang artinya dari bukan juga ‘ila’ yang artinya kepada,” terang Ustadz Hilman.

“Hikmahnya apa? Jika seseorang ingin didekatkan rezekinya, maka ia harus semakin dekat dengan yang di Atas (Allah),” imbuhnya.

“Insya Allah kalau kelima poin ini dilakukan dengan baik dengan penuh iman dan syukur. Sayangnya kepada Allah sudah sempurna. Karena Allah kalau sudah sayang dengan hamba-Nya, belum diminta pun, sudah Allah kasih,” pungkas Ustadz Hilman, dalam kajian kepemudaan bertema “Katanya Sayang, Kok Gitu?” yang digelar oleh Teman Hijrah.

Teman Hijrah adalah salah satu komunitas yang bergerak di bidang dakwah dan hijrah. Komunitas yang berbasis di Bogor ini sudah mendatangkan Ustadz-ustadz kondang, salah satunya Salim A Fillah. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here