Pasukan Muslim Usir Jepang dari Tanah Filipina

45
Masjid Cotabato (Foto: Istimewa)

Filipina, Muslim Obsession – Sepanjang bulan Juni 2018, fanfare dan arak-arakan, menandai ulang tahun ke-59 Kota Cotabato, yakni pusat Daerah Otonom di Muslim Mindanao. Fanfare adalah komposisi musik pendek yang bersemangat dan gembira, biasanya dimainkan dengan alat musik dari tembaga, terutama trompet.

Terletak di Maguindanao, Cotabato berada di bawah pengaruh internasional lebih banyak daripada bagian lain Mindanao. Pedagang Hindu menetap di Maguidanao dan berbagi praktik mereka dengan berbagai kelompok etno-linguistik.

Pada abad ke-15, misionaris Arab Shariff Kabunsuan mendarat di Mindanao dan memperkenalkan Islam. Kemudian, para ulama mengajarkan seni dan ilmu pengetahuan. Hingga membentuk kehidupan masyarakat yang menghasilkan Kesultanan Maguindanao.

Dikutip dari Business Mirror, Kamis (5/7/2018) di bawah Sultan Daputian Qudarat pada abad ke-17, Kota Cotabato menjadi ibu kota Maguindanao dan masyarakat yang makmur.

Pada awal abad ke-19, jalan dan pelabuhan menjadi fondasi bagi infrastruktur modern. Orang-orang Spanyol akhirnya mendirikan pemukiman Kristen dan pos militer. Sayangnya, pemerintahan tersebut berumur pendek, ketika Datu Piang memimpin serangan terhadap orang-orang Spanyol dan membantai orang-orang Kristen pada pergantian abad ke-20.

Selama pendudukan Amerika, Datu Piang menjadi gubernur pertama Provinsi Kekaisaran Cotabato, atau “Moroland.” Meskipun pasukan Jepang menyerang Mindanao selama Perang Dunia II, pasukan Muslim Maguindanaon dan tentara Persemakmuran Filipina akhirnya berhasil mengusir Jepang.

Setelah perang, Kota Cotabato menjadi kotamadya kelas satu dan salah satu komunitas Mindanao yang paling progresif. Hal itu yang kemudian kota charter, diproklamirkan pada 20 Juni 1959, di bawah Republik Act 2364.

Untuk perayaan ulang tahun Cotabato yang ke-59 ini, sudah dimulai sejak Hari Kemerdekaan Filipina, 12 Juni lalu. Ditandai dengan presentasi budaya sehari-hari yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan di City Plaza.

The Cotabato Toy Fair di City Mall dipentaskan mulai 14-17 Juni lalu. Kompetisi olahraga (taekwondo, tenis meja, jiu jitsu, pertarungan super dan tenis rumput) juga dipentaskan. Sedangkan pada 16 Juni, kompetisi kuliner Wali Kota Cynthia Guiani-Sayadi diadakan di Istana Rakyat. Sementara lokakarya dan tari “Sayaw, Cotabato” dipentaskan di Sekolah Tinggi Politeknik Universitas Negeri Cotabato.

Acara olahraga lainnya digelar pada 17 Juni. Seperti Padyak Takbo Para sa Turismo di People’s Palace dan turnamen tinju di City Mall. Di sela acara olahraga hari itu juga ada berbagai hiburan, termasuk kompetisi cosplay di City Mall dan PaBingo sa Plaza di City Plaza.

Tapi, kata warga Filipina, sebuah perayaan kota tidak pernah lengkap tanpa kontes kecantikan. Tahun ini Mutya ng Cotabato Talent Competition dipentaskan di Southseas Mall. Sebagai acara pendahuluan menuju final, yang diadakan pada 19 Juni di Kompleks Budaya Shariff Kabunsuan.

Perayaan special digelar pada 20 Juni. Dimulai dengan parade militer di pagi hari dan peluncuran resmi “Sayaw, Cotabato”, festival tari pribumi tahunan yang menampilkan keragaman kelompok etnis-bahasa kota, serta pengaruh modern.

DayBreak Band yang berbasis di Davao juga turut tampil di City Plaza. Ada pula Forum Pengembangan Industri Halal yang diadakan di Alnor Convention Center.

Sekilas Tentang Kota Cotabato

Cotabato, dahulu Cotabato Utara (Filipino: Hilagang Cotabato) adalah provinsi di pedalaman Filipina yang terletak di kawasan SOCCSKSARGEN, Mindanao. Ibukotanya Kidapawan City dan berbatasan dengan Lanao del Sur dan Bukidnon di utara, Davao del Sur dan Davao City, Sultan Kudarat di selatan, dan Maguindanao di barat.

Pada tahun 2009, provinsi ini memiliki populasi sebesar 1.121.974 jiwa. Dengan luas wilayah 9.008,90 km2, maka kepadatan penduduknya adalah 125 jiwa/km2.

Bekas provinsi Cotabato pernah menjadi yang terbesar di Filipina. Pada 1966, Cotabato Selatan dimekarkan sebagai provinsi terpisah. Pada 22 November 1973, sebuah Dekret Kepresidenan membagi provinsi sisanya menjadi Cotabato Utara, Maguindanao, dan Sultan Kudarat.

Kemudian, Cotabato Utara berganti nama menjadi Cotabato pada 19 Desember 1983. Keunikan penduduk asli Maguindanaon dari provinsi Cotabato, di antaranya memiliki budaya mempesona semacam musik kulintang, sejenis musik gong spesifik, yang ditemukan di antara kelompok Muslim dan non-Muslim di Filipina Selatan.

Region Otonomi Muslim Mindanao (Filipina: Awtonomong Rehiyon sa Muslim Mindanao) atau ARMM adalah salah satu region otonomi Filipina. Region ini berlokasi di kelopok pulau Mindanao di selatan negeri itu.

Sesuai namanya, penduduk region ini mayoritas beragama Islam. Region ini terdiri dari lima provinsi; yaitu Basilan (tidak termasuk Kota Isabela), Sulu, Tawi-Tawi, Maguindanao, dan Lanao del Sur. Region ini berpusat di Cotabato City, Maguindanao. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here