5 Juli, Tragedi Hancurnya Sekolah Islam Hingga Penelitian Khitan

56
Mengungkap Sejarah (Foto: Ilustrasi/The Teachers Digest)

Muslim Obsession – Sekolah Islamia, lembaga pendidikan tertua Srinagar India yang berusia 105 tahun, habis dilahap si jago merah pada 5 Juli 2004, atau 14 tahun silam tepat hari ini. Lebih dari 30.000 buku, termasuk salinan tertua di dunia tentang Islam dan salinan kuno Al-Quran, hangus menjadi abu.

Sekolah tersebut dijalankan oleh Anjuman-e-Nustratul Islam, sebuah organisasi sosial keagamaan yang dipimpin oleh keluarga Mirwaiz yang menjadi tokoh berpengaruh saat itu.

Hal ini, kemudian memicu protes keras dan cukup panas di Srinagar. Sementara itu, Anjuman-e-Nustratul Islam mengklaim kejahatan tersebut sebagai sebuah konspirasi untuk menghancurkan sejarah.

Laporan mengatakan bahwa kebakaran terjadi pada larut malam. Hingga akhirnya melahap habis bangunan berusia ratusan tahun itu. Kompleks yang terdiri dari tiga bangunan dengan 28 kamar dan dua aula itu hancur.

“Itu bukan kecelakaan. Bensin telah ditaburi di ketiga bangunan kompleks. Tidak masuk akal, jika tiga gedung terbakar di saat yang sama,” katanya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (5/7/2018).

Tersebar di hampir satu hektar di wilayah Rajouri Kadal yang padat penduduk, Sekolah Islamia didirikan oleh Moulvi Rasul Shah pada tahun 1899.

Dia merupakan politisi terkemuka, juga seorang Menteri Utama Jammu dan Kashmir, Mufti Mohammed Sayeed, birokrat dan intelektual Muslim tercatat sebagai salah satu alumninya.

Khitan Kurangi Risiko AIDS

Pada 5 Juli 2005, Peneliti Prancis dan Afrika Selatan memberikan bukti bahwa laki-laki yang dikhitan atau disunat, mengurangi risiko AIDS hingga 70%.

Afrika sendiri dilaporkan memiliki lebih dari 25 juta orang yang terinfeksi. Hal ini menjadikan Afrika sebagai negara dengan angka tertinggi pengidap AIDS di dunia.

WHO kemudian membenarkan bahwa ada bukti kuat bahwa khitan mengurangi risiko infeksi HIV yang didapat secara heteroseksual pada pria sekitar 60%.

Dikutip dari Journals, Kamis (5/7/2018) tiga uji coba terkontrol secara acak, menunjukkan bahwa khitan laki-laki yang dilakukan oleh para profesional kesehatan yang terlatih dan lengkap itu dibenarkan dan aman.

WHO/UNAIDS menekankan bahwa khitan laki-laki harus dianggap sebagai intervensi yang efektif untuk pencegahan HIV di negara dan wilayah dengan epidemi heteroseksual, HIV tinggi dan prevalensi khitan laki-laki yang rendah.

Meskipun, menurut WHO, khitan pada laki-laki hanya memberikan perlindungan parsial. Oleh karena itu, harus ada pencegahan HIV komprehensif yang meliputi, penyediaan layanan tes dan konseling HIV, serta pengobatan untuk infeksi menular seksual. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here