Zaid bin Tsabit Sang Pencatat Wahyu dan Penerjemah Rasulullah

301

Zaid bin Tsabit sendiri sebenarnya hafal Al-Quran dari awal sampai akhir, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering mengecek hafalannya. Namun, ia tidak mau mengandalkan hafalannya saja. Ia temui setiap sahabat yang mempunyai catatan dan hafalan. Mengumpulkan catatan yang terserak pada kulit, tulang, pelepah kurma, daun dan sebagainya. Kemudian mengkomparasikan satu-ayat dengan yang lain. Setelah itu, zaid menulis ulang Al-Quran dari awal hingga akhir.

Catatan itu disusun menjadi satu mushaf. Susunan surat dan ayat mengacu kepada bacaan Rasulullah. Inilah mushhaf pertama yang dibuat dalam Islam, dan peran Zaid bin Tsabit sangat besar dalam penyusunannya. Ia menghabiskan waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikannya.

Al-Quran diturunkan dengan tujuh macam bacaan (qiraat sab’ah). Hal ini memang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri untuk kemudahan umat beliau yang karakter lafal dan ucapannya berbeda-beda, sehingga jika telah cocok dengan salah satu bacaan (qiraat) tersebut sudah dianggap benar. Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dan Islam masih di sekitar jazirah Arab, hal itu tidak jadi masalah. Tetapi ketika wilayah Islam makin meluas ke Romawi, Persia dan tempat-tempat lainnya, sementara pemeluk Islam juga makin beragam dari berbagai bangsa, bukan hanya Arab, hal itu bisa menimbulkan perpecahan.

Pada masa khalifah Utsman, di mana Islam sudah mulai menjamah wilayah Eropa, yakni Siprus dan sekitarnya, benih berbahaya ini ditangkap oleh Hudzaifah bin Yaman dan beberapa sahabat lainnya. Karena itu mereka menghadap khalifah Utsman menyampaikan usulan untuk menyatukan mushaf dalam satu bacaan/qiraat saja, dan menyebar-luaskannya sebagai pedoman bagi masyarakat Islam yang makin meluas saja. Untuk qiraat sab’ah (bacaan yang tujuh), biarlah hanya diketahui para ulama dan ahlinya saja.

Khalifah Utsman tidak serta-merta menerima usulan tersebut karena takut terjatuh dalam bid’ah, sebagaimana yang dikhawatirkan Abu Bakar. Tetapi setelah melakukan istikharah dan mempertimbangkan persatuan umat, serta madharat dan manfaat dari adanya Qiraat Sab’ah, akhirnya ia menyetujui usulan ini. Dan seperti halnya Abu Bakar, khalifah Utsman menugaskan Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek besar ini, sehingga tersusun kodifikasi Mushaf Utsmani. (Bal/Berbagai Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here