Zahra, Gadis 15 Tahun Jadi Kuli Bangunan untuk Bertahan Hidup

180
Zahra di depan gubuknya. (Foto: AJNN)

Lhokseumawe, Muslim Obsession – Seorang gadis berusia 15 tahun harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Zahra, demikian nama gadis asal Gampong Uteunkot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh tersebut.

Zahra yang ditinggal pergi ayah kandungnya sejak enam tahun lalu, tinggal bersama ibu dan tiga saudaranya di gubuk kayu bekas kedai ukuran 2×3 meter dengan alas tanah beratap terpal.

Karena tak punya beras, Zahra serta ibu dan ketiga saudaranya kadang tidak makan selama dua hari.

“Kadang sampai dua hari tidak makan, terkadang mamak beli pisang satu sisir untuk dibagikan ke kami kalau lagi tidak ada makanan. Alhamdulillah, meskipun kehidupan seperti ini saya bersyukur. Kami sudah biasa jalani kehidupan seperti ini,” lirih Zahra, mengutip AJNN, Kamis (4/2/2021).

Zahra yang saat ini duduk di kelas 3 SMP Negeri 5 Lhokseumawe itu mengaku jarang masuk sekolah, karena ia harus bekerja menjadi kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Baca juga: Kisah Hikmah tentang Seorang Dosen dan Mahasiswi

Sebagai kuli bangunan, Zahra mengikat besi dan lainnya. Ia tak peduli meski tangannya menjadi kasar. Memenuhi kebutuhan hidup keluarga lebih terpenting baginya, meski harus bekerja seharian penuh untuk Rp50 ribu. Zahra memiliki impian bisa memperbaiki rumah yang saat ini dihuninya bersama keluarga.

“Upahnya tidak saya ambil dulu, dikumpulkan kalau udah banyak baru ambil biar bisa beli kayu,” tuturnya.

Meski hidup serba kekurangan, di sekolah Zahra tidak pernah merasa minder. Ia justru bersyukur karena memiliki teman-teman yang baik dan pemurah. Zahra mengaku sering dijajani oleh teman-teman sekolahnya.

“Cuma kalau sekolah terkendala ongkos. Makanya sering tidak masuk,” ujarnya.

Punya Adik Sakit Kanker

Salah seorang adik Zahra yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri 7 Lhokseumawe tengah sakit. Adik yang bernama Suci Istiqamah tersebut saat ini sedang menderita kanker saraf.

“Sekarang tidak berobat lagi, karena tidak punya biaya,” ucapnya terisak.

Sementara sang ibu, Naila (41) juga harus bekerja serabutan, seperti cuci baju orang, bantu-bantu menjadi kuli bangunan, dan lainnya yang bisa menghasilkan uang untuk menghidupi anaknya semenjak ditinggal pergi suaminya yang entah ke mana.

“Saya tinggal di rumah ini berempat, kalau angin dan hujan sudah pasti bocor, tapi sekarang kami tutup pakai tepal, agar airnya tidak masuk ke ruangan,” ucap Naila.

Tak jarang, Naila dan Zahra harus tidur di luar rumah kalau kondisi sedang tidak hujan, dengan mengandalkan api unggun agar menghindari gigitan nyamuk.

Baca juga: Kisah Penyuluh Agama Memperdengarkan Keindahan Al-Quran pada Anak Tunarungu

“Kalau anak-anak di dalam, saya dengan anak pertama (Zahra) tidur di luar. Ketika pagi, baru saya masuk ke dalam ruangan. Kalau hujan kami tidak tidur karena tidak muat, hanya duduk aja di dalam rumah,” kisahnya.

Naila mengaku sudah empat bulan menghuni gubuk itu, sebelumnya dia menumpang di rumah orang lain yang tidak dipakai, akan tetapi rumah itu saat ini sedang direnovasi, sehingga mereka harus menetap di gubuk tersebut.

“Kalau untuk makan, kami bertiga kerja, anak pertama, saya dan anak kedua. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan tetapi tidak cukup, karena anak-anak masih sekolah,” ucapnya.

Meminjam Kamar Mandi Tetangga

Kondisi Zahra dan keluarganya memantik empati tetangga-tetangga. Salah satunya Mayani yang mengaku sangat perhiatin dengan kehidupan keluarga tersebut. Ia selalu membantu dari makanan dan fasilitas lainnya jika mereka sedang membutuhkan.

“Jadi, kalau mereka mau buang hajat, selama ini fasilitas kamar mandi kami berikan. Dan mereka bisa keluar masuk,” ujarnya.

Wakil Kepala Sekolah SMPN 5 Lhokseumawe, Rahmawati, saat bertemu dengan AJNN, menceritakan awal mula mereka mengetahui tentang kehidupan Zahra. Remaja itu tidak masuk sekolah, padahal sedang masa evaluasi atau ujian.

Baca juga: Menyentuh Hati, Kisah Roti Gosong dari Mantan Presiden India

“Jadi dia (Zahra) tidak sekolah, jadwal belajarnya Kamis, Jumat, Sabtu kita sesuaikan dengan kondisi Covid-19, tapi Zahra tidak kelihatan saat itu,” katanya didampingi Kepala Sekolah SMPN 5 Sri Ariyanti.

Karena penasaran, mereka mendatangani rumah Zahra, mengingat program sekolah SMPN 5 jika ada siswa tidak hadir dijemput ke rumah.

“Ketika kami tiba di rumah Zahra, kami tanyakan pada tetangga, kami kaget saat tahu Zahra ternyata lagi kerja bangunan bersama ibunya,” ungkap Rahma. Melihat kondisi itu, dari pihak sekolah menggalang dana untuk membantu kebutuhan hidup muridnya itu.

“Kami berharap, Zahra tetap sekolah seperti biasa, hingga lulus. Untuk jajan dan lainnya, pihak sekolah akan berupaya untuk menanggungnya. Yang penting pendidikannya bisa tercapai,” kisahnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here