Yuk, Hapuskan Dosa 2 Tahun dengan Puasa Arafah

773

Muslim Obsession – Merujuk penanggalan yang telah ditetapkan Kementerian Agama, tanggal 9 Dzulhijjah akan jatuh pada Selasa, 21 Agustus. Bagi setiap muslim, tanggal tersebut memiliki makna besar yang sangat sayang sekali kalau dilewatkan.

Mengenai Hari Arafah ini, Muhammad Abduh Tuasikal mengatakan bahwa tanggal 9 Dzulhujjah merupakan hari yang mulia, dimana Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya dan pembebasan dari siksa neraka.

Menurut pengasuh Rumaysho ini, pada hari tersebut disyari’atkan amalan mulia, yaitu puasa sunnah bagi yang tidak berhaji.

Hal ini ditegaskan dalam hadits dari Abu Qotadah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Adapun Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

Sementara orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Sebuah hadits menginfirmasikan, “Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51).

Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).

Nah, setelah mengetahui kajian puasa Arafah ini, maka yang paling penting adalah praktiknya. Sangat sayang kalau kesempatan setahun sekali ini dilewatkan.

Eits, jangan sampai informasi ini berhenti di kita saja. Sebaiknya juga jika berita ini bisa disampaikan kepada keluarga dan saudara kita yang lain, agar kita dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik.

“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah (harta yang amat berharga di masa silam).” (Muttafaqun ‘alaih).

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim). (Fath).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here