Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin dengan 5 Prinsip Dakwah di Televisi

83
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kamaruddin Amin. (Foto: kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Kementerian Agama menegaskan pentingnya lima prinsip dakwah di televisi dan media untuk mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kelima prinsip itu penting agar tercipta paket siaran agama yang lebih variatif dan inovatif sehingga bisa mengundang minat pemirsa.

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kamaruddin Amin saat Temu Dai Media, di Jakarta ahad (26/12/2021).

Pertama, kualitas dai yang memiliki wawasan keislaman dan kebangsaan yang baik, serta mampu menulis dan membaca teks Al-Qur’an dan Hadits dengan baik. Kedua, menjunjung tinggi etika, hubungan antaragama, dan toleransi.

“Selain kualitas dai dan etika, prinsip dakwah di media yang ketiga adalah tidak memberi muatan politik praktis, dan tidak menjelek-jelekkan keyakinan umat lain,” ujar Kamaruddin.

Keempat, penghormatan terhadap suku, ras, dan agama. Kelima, berorientasi kepada pembangunan akhlak dan jati diri bangsa.

Kamaruddin menuturkan, dakwah melalui televisi dapat menyatukan persepsi komunitas umat Islam dengan menerima pesan-pesan yang disampaikan secara bersama-sama dan seragam.

“Dakwah di televisi juga dapat meminimalisir pengaruh westernisasi yang semakin marak digencarkan oleh media Barat,” urainya.

Menurutnya, televisi berperan penting bagi proses identifikasi nilai-nilai yang diterima masyarakat (khususnya umat Islam) yang terus berubah. Syekh Ali Mahfuz mengutarakan bahwa maju mundurnya Islam sangat tergantung pada kegiatan dakwah atau penyiaran Islam yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri.

“Media-media dakwah memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting karena menentukan tingkat keberhasilan dakwah. Bahkan dapat dikatakan, bahwa tingkatan keberhasilan dakwah berbanding lurus dengan keberadaan media dakwah,” imbuhnya.

Oleh karena itu, jelasnya, media memiliki kedudukan yang sama dengan tujuan. Karena jika tujuan dakwah tidak dapat terealisasi tanpa media, sebutnya, maka keberadaan media tersebut wajib hukumnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here