WMI dan Jaringan Kerja Bertemu Gubernur Sulteng

438
WMI (Foto: Isimewa)

Palu, Muslim Obsession –  Wahana Muda Indonesia (WMI) Care bertemu dengan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola pada Senin Malam (15/10/2018) di Rumah Jabatan Gubernur yang dijadikan Posko Tanggap bencana Pemda.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk melaporkan program kerja yang telah dilakukan WMI dan jaringannya selama di Sulteng. Dalam pertemuan itu dihadiri pula oleh jaringan kerja “Bersatu untuk Palu dan Donggala” yang melibatkan Notaris Muslim Indonesia (NMI), Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), dan Thoriquna.

“Kami hari kedua sudah ada di sini, kami punya kader 15 orang asli Palu, mereka juga sudah membantu bencana di Lombok,” kata Budhi kepada Muslim Obsession, Rabu (17/10/2018).

Selama di Sulteng, kata dia, WMI dan jaringannya memprioritaskan rescue, evakuasi, dan logistik, serta koordinasi dengan BNPB.

Budhi menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa dikerjakan sendiri, harus melibatkan banyak pihak. Untuk itu, WMI selaku berupaya membangun jaringan sinergi antara NGO, masyarakat dan pemerintah.

“Kami percaya penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri, tidak bisa oleh pemerintah daerah saja. Harus bersinergi pemerintah, warga dan swasta,” tukasnya.

Menurut Budhi, WMI dan jaringan kerjanya akan menempatkan posko untuk memantau kebutuhan dan keperluan warga. Posko di sana juga akan mempelajari banyak hal untuk kebutuhan socio enginering/rekayasa sosial. Sebab, salah satu visi WMI adalah mengelola masyarakat yang tertimpa bencana untuk mandiri.

“Kami ingin melakukan socio enginering agar mental warga tidak berubah, dari yang terbiasa aktif bergerak sendiri, menjadi bermental menadah. Kami ingin warga bisa move on, warga aktif tidak menunggu, mereka harus bangkit,” ungkapnya.

Konsep socio enginering tersebut sudah diterapkan dalam program pemulihan bencana di Lombok. Sehingga, masyarakat kembali aktif dan mandiri, tidak selalu bergantung kepada bantuan terus menerus.

Sementara itu, Ketua Umum WMI Handriansyah mengatakan WMI masih mengikuti irama BNPB dan pemerintah pusat. WMI berusaha memenuhi kebutuhan mendasar pengungsi seperti makanan, tenda, dan huntara (Hunian Sementara).

“Sambutannya luar biasa, yang menarik yang masak juga korban gempa dari Petobo. Mereka masak untuk 600 bungkus, 500 bungkus untuk mereka, 100 bungkusnya untuk pengungsi daerah lain. Karena WMI ingin meningkatkan ghiroh korbna bencana untuk bangkit kembali,” jelasnya.

Adapun program jangka panjang tahap recovery atau pemulihan bencana yang akan dilakukan di Palu sekitarnya, tidak jauh berbeda dengan di Lombok. WMI akan mendorong program pengadaan Hunian Sementara (Huntara).

“Kita akan mensupport materialnya,”tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here