Wejangan Gus Baha Agar Tak Ditanya Malaikat Munkar-Nakir di Alam Kubur

86
Gus Baha.

Jakarta, Muslim Obsession – Saat manusia masuk ke alam kuburya, umumnya mereka akan melalui prosedur formal, yakni ditanya Malaikat Munkar-Nakir di alam kubur tentang keimanan seseorang Tuhan, Kitab Suci, dan Nabinya.

Ibarat kata, alam kubur adalah rumah pertama sebelum memasuki alam akhirat. Bila selamat di kubur, maka yang setelahnya akan lebih mudah. Sebaliknya, bila tidak selamat di kubur, maka setelahnya pun lebih sulit.

Mereka yang disiksa di alam kubur umumnya karena tidak mengenal Allah dan mengabaikan perintah-Nya. KH Bahauddin Nursalim yang akrab disapa Gus Baha menyampaikan tips agar tidak ditanya Malaikat di alam kubur.

Berikut pesan Gus Baha saat mengisi Mauidhoh Hasanah Haul ke-62 KH Raden Asnawi Kudus 19 Februari 2020 sebagaimana dilansir dari iqra.id. Jumat (4/6/2021).

Gus Baha menceritakan bahwa Sayyidina Ali karamallahu wajhah pernah mengalami kasyaf (melihat alam gaib) tentang Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu membentak Malaikat Munkar-Nakir saat ditanya di alam kubur.

Dikisahkan, Sayyidina Umar enggan menjawab pertanyaan Malaikat: “Man Rabbuka wa man Nabiyyuka (siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu) karena beralasan dirinya merupakan teman dari Nabi Muhammad sebagai kekasih Allah.

“Jadi saat Umar ditanya Malaikat, dia malah bentak balik. Hai malaikat apa kamu tidak tahu siapa saya. Saya ini teman dekat Kekasih Allah, apa pantas kamu menanyakan hal itu kepada saya. Apakah kalian masih ragu dengan keimanan saya,” ucap Gus Baha menceritakan.

Singkat cerita, akhirnya pertanyaan kepada Umar tidak dilanjutkan oleh Munkar-Nakir setelah Allah membenarkan pengakuan Umar.

Kata Gus Baha, peristiwa itu merupakan kabar gembira. Akan tetapi, kita ini kan tidak punya nyali untuk membentak Munkar-Nakir. Oleh karenanya, Gus Baha memberikan semacam tips bagi beberapa orang agar kelak di alam kubur tidak mendapatkan pertanyaan dari malaikat.

“Semoga dengan gelar kita seperti Doktor Tafsir, Doktor Tauhid, Guru Tauhid, atau paling tidak siswa terbaik dalam materi Tauhid, harus kita bawa status itu ketika di alam kubur,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Kragan, Rembang.

Nanti di alam kubur (ngomong kepada malaikat), ‘Saya ini rangking satu Tauhid, masak masih ditanya Man Rabbuka wa Man Nabiyyuka (siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu)?’.

Menurut Gus Baha, cara demikian itu sah-sah saja. “Anda tidak usah protes, mana dalilnya, Gus?’ Tidak usah dalil-dalilan,” ungkapnya.

Gus Baha akhirnya menegaskan dalilnya adalah wali-wali Allah itu لاخوف عليهم ولاهم يحزنون (tiada ketakutan dan tiada keresahan). Mereka tidak akan mengalami ketakutan baik di dunia maupun di akhirat.

Kata Gus Baha, sebetulnya Sayyidina Umar mengandalkan temannya (Nabi Muhammad), bukan dirinya sendiri. Sehingga tidak semua orang di alam kubur akan mendapatkan pertanyaan ‘Man Rabbuka (siapa Tuhanmu?)’.

“Para Nabi, para kekasih Allah dan wali-walinya itu tidak ditanya oleh Mungkar Nakir. Sudah bebas dia, masa iya Nabi Muhammad ditanua Man Nabiyyuka. Wong dia Nabi ko,” tandasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here