Waspada! Diet Puasa Intermittent Bisa Picu Penyakit

703
Puasa Diet (Foto: Futuready)

Jakarta, Muslim Obsession – Diet puasa intermittent (Intermittent Fasting) menjadi tren terbaru untuk menurunkan berat badan. Testimoni akan efektivitas diet yang membolehkan kita makan apa saja pada waktu tertentu ini membuat banyak orang tertarik mencobanya.

Puasa intermittent adalah metode pengaturan makan yang memiliki siklus antara periode puasa (tapi boleh minum) dan waktu makan normal. Tidak ada pantangan makanan dalam diet ini karena lebih menekankan pada kebiasaan makan, yakni kapan harus makan dan kapan tidak.

Ada dua bentuk puasa intermittent yang paling banyak diterapkan. Pertama adalah metode 5:2 yang mengharuskan Anda mengonsumsi 500-600 kalori dalam dua hari yang tidak berturut-turut dalam seminggu, tetapi makan seperti biasanya pada 5 hari lainnya.

Kedua adalah metode 16:8, yakni membagi waktu 16 jam berpuasa dan 8 jam untuk makan. Misalnya, jika terakhir makan malam pukul 18.00 maka Anda diperbolehkan makan kembali pada pukul 10.00 keesokan harinya, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa hingga 16 jam ke depan.

Tapi ternyata puasa intermittent memiliki dampak fisiologis yang megakibatkan tubuh akan mengalami perubahan metabolisme saat menjalani puasa intermittent. Saat memasuki fase pembatasan kalori, pemenuhan kebutuhan gula di tubuh akan minimal. Alhasil tubuh akan menggunakan bahan bakar lain untuk memenuhi kebutuhan kalori basal yang penting untuk menggerakkan organ-organ vital.

Bahan bakar lain yang digunakan tubuh adalah simpanan lemak tubuh. Hal ini menyebabkan pembakaran lemak di tubuh dan naik turunnya kadar zat metabolik, khususnya asam lemak dan benda keton. Selain itu juga dapat mencetuskan stres metabolik dan hiperfagia saat waktu makan normal. Hiperfagia adalah hasrat untuk makan dalam jumlah yang banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here