Wartawan Senior dan Pejuang Kemanusiaan Itu Tutup Usia di Medan Dakwah

103
Nurbowo, wartawan senior dan Ketua Bidang Infokom Dewan Da'wah Pusat, meninggal dunia saat melakukan safari Dakwah di Pesisir Selatan, Sumatra Barat pada 2 Desember 2020. (Foto; FB)

Oleh: Edy Susanto (Wartawan, junior dan sahabatnya)

“Ya Rasul, tahukah engkau orang yang berperang untuk mencari pahala dan popularitas? Apa yang didapatkan oleh orang seperti itu?” Rasul menjawab, ”Dia tidak mendapat apa-apa.” Orang itu mengajukan pertanyaan yang sama hingga tiga kali dan Rasul pun memberi jawaban yang sama. Rasul lalu menegaskan, ”Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal (perjuangan), kecuali yang ikhlas dan semata-mata mengharap ridha-Nya.” (HR Muslim).

Penggalan hadits di atas rasanya cukup menggambarkan bagaimana sosok kehidupan seorang Nurbowo, atau Mas Bowo biasa kita panggil sehari-hari.

Mas Bowo ini berangkat dari seorang pejuang dakwah lewat tulisan dan buku-buku yang beliau buat dan hasilkan.

Tulisan-tulisan beliau banyak menghiasi tabloid dan majalah Islam era tahun 90 ke atas. Beliau juga banyak menulis buku-buku dakwah atau buku biografi yang lebih banyak tidak menonjolkan nama beliau sebagai penulisnya (ghost writer).

Termasuk buku buku ustadz dan tokoh Islam pernah beliau buatkan bukunya. Atau dalam bahasa lain karya beliau dalam penulisan buku banyak dibaca orang, tapi tidak banyak yang tahu kalau beliau adalah penulis bukunya.

Kurung waktu berapa puluh tahun terakhir aktivitas dakwah beliau adalah mengelola media dakwah lewat payung Laznas Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yakni tabloid Tazakka sebuah tabloid internal Lembaga Amil Zakat (LAZ) DDII yang beliau di majalah itu duduk sebagai pimpinan redaksinya.

Di kalangan teman-teman wartawan media Islam beliau disegani dan dihormati. Beliau sosok yang sederhana, bersahaja, cerdas sekaligus figur kebapakan (bapak) yang bersahaja.

Sehari-hari di grup WA teman-teman wartawan media Islam dan penggerak dakwah beliau senantiasa aktif ngobrol disitu. Bercanda, saling menasehati, kadang memberikan pencerahan dan wawasan tapi dikemas dengan gayanya yang humoris tapi cerdas dalam mengelola humor yang disampaikan.

Seorang figur mantan wartawan senior yang pantas diteladani dan dihormati selama hidupnya. Seorang penggiat dakwah dan kemanusiaan yang aktivitas sebagai relawan kemanusiaan dan perjuangan dakwah sudah tidak diragukan dan disangsikan lagi.

Kami masih ingat saat peristiwa momen fenomenal Aksi 212 yang terjadi berapa tahun lalu. Di saat beberapa teman-teman wartawan media Islam bingung mau bermalam dimana saat sebelum peristiwa 212 itu dilaksanakan.

Beliaulah yang membantu memfasilitasi para wartawan media Islam untuk bisa menginap di salah satu hotel di dekat kawasan Monas, agar kami punya persiapan meliput acara itu pada paginya itu yang dimulai dari Sholat Subuh itu.

Gayanya khas, wawasannya luas, cerdas dan bernas serta humoris dan senang bercanda adalah trade mark yang tidak akan pernah kami lupakan terhadap beliau bila mengingatnya.

Kini sosok inspirasi dan menyemangati itu telah pergi untuk selamanya. Beliau pergi di medan dakwah. Saat perjalanan safar ke pelosok negeri bersama para Da’i dan pengurus Dewan Dakwah Islam Indonesia beliau pergi untuk selama lamanya. Beliau wafat saat sedang bekerja dan berjuang di medan juang.

Hari ini tepat tanggal 2 Desember 2020 saat beliau meninggalkan kita untuk selamanya. Maka kami kembali mengingat momen 212 berapa tahun lalu. Momen kenangan bersama beliau yang tidak akan kami lupakan.

Selamat jalan, Engkong…

Engkau adalah pejuang dan senior yang kami hormati dan segani.

Hari ini kami bersaksi engkau adalah orang baik dan sholeh..

InsyaAllah engkau Khusnul Khotimah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here