Wanita Muslim di Eropa Terancam Tak Boleh Berhijab Saat Kerja

47
Wanita Berhijab (Foto: latterdaysaintmag.com)

Muslim Obsession – Pengadilan Uni Eropa mengatakan bahwa wanita Muslim mungkin tidak diperbolehkan mengenakan jilbab atau hijab di tempat kerja. Jilbab dan niqab memang dilarang secara hukum di banyak negara Eropa.

Usulan itu diajukan setelah dua kasus dilaporkan oleh wanita Muslim di Jerman yang diskors dari pekerjaan mereka ketika mereka mulai mengenakan jilbab.

Kedua wanita itu tidak memakainya ketika mereka mulai bekerja. Namun, ketika mereka kembali dari cuti orang tua, mereka memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab.

Pengadilan berpendapat bahwa pengusaha dapat memberlakukan larangan mengenakan jilbab jika mereka ingin menghindari perselisihan sosial antara staf dan pelanggan.

Tertulis bahwa larangan memakai atribut apapun yang berhubungan dengan politik, filosofi, atau keyakinan agama di tempat kerja dapat dibenarkan oleh pengusaha yang ingin menampilkan citra netral terhadap pelanggan atau untuk menghindari perselisihan sosial.

Namun, pembenaran harus sesuai dengan kebutuhan asli dari majikan itu sendiri.

Majikan memberi tahu kedua wanita itu bahwa mereka tidak diizinkan mengenakan penutup kepala apa pun dan kemudian diskors, kemudian menambahkan bahwa mereka akan ditempatkan pada pekerjaan yang berbeda jika mereka tidak melepasnya saat bekerja.

Beberapa kritik telah menghadapi putusan pengadilan karena beberapa orang menuduhnya melanggar hak asasi manusia.

Ini digambarkan oleh Tell Mama, sebuah organisasi yang mencatat dan menangani pelecehan anti-Muslim, sebagai penolakan mendasar dan sangat memprihatinkan terhadap hak untuk mengekspresikan identitas agama di seluruh Eropa.

Dikutip dari The Islamic Information, Jumat (16/7/2021) selama bertahun-tahun hijab telah menjadi topik perbincangan di seluruh Eropa, bahkan banyak negara yang secara hukum telah melarang penggunaan hijab, niqab, dan kerudung tipis yang digunakan untuk menutupi wajah.

Sebelumnya, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan dalam sebuah kolom di Telegraph pada 2018 bahwa wanita Muslim yang mengenakan jilbab menyerupai ‘kotak surat’.

Dia menambahkan dengan menulis bahwa setiap wanita yang menghadiri kelas atau kuliah mengenakan pakaian kesopanan atau terlihat seperti ‘perampok bank’ harus diminta untuk melepasnya.

Terbukti, komentar Johnson menyebabkan peningkatan serangan anti-Muslim dengan persentase hampir 375 persen.

Serangan ini biasanya hanya terjadi delapan kali seminggu kemudian meningkat menjadi 38 kali seminggu setelah komentarnya. 22 dari 38 insiden kebencian anti-Muslim ditargetkan pada wanita Muslim yang mengenakan niqab.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here