Wanita Haid Bolehkah Masuk Masjid?

177

Jakarta, Muslim Obsession – Wanita haid, dalam Islam ada hukum khusus yang berlaku pada mereka. Seperti tidak boleh shalat, tidak boleh puasa dan tidak boleh disetubuhi melalui faraj (kemaluan). Tiga hal ini, para ulama sepakat berlaku pada wanita yang haid.

Namun bagaimana hukumnya jika wanita haid masuk masjid untuk mengikuti kajian Islam. Apakah diperbolehkan? Ustadz Ahmad Anshori Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY menjelaskan hal ini.

Menurutnya ada sejumlah pendapat dari para ulama, ada yang membolehkan ada yang melarang. Mereka yang melarang berdasar pada bunyi Al-Quran.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamudan sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). (QS. An-Nisa’ : 43)

Mereka menqiyaskan haid dengan junub.

Selain itu ada juga hadits yang berbunyi

إني لا أحل المسجد لحائض ولا جنب

“Saya tidak menghalalkan (melarang keras) orang yang haidh dan junub (masuk/berdiam) dalam masjid”. (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Pendapat kedua wanita haid boleh ke masjid.

Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad (dalam salah satu riwayat dari beliau), Al Muzani, Abu Dawud dan Ibnu Hazm -rahimahumullah- berpandangan, wanita haid boleh berdiam di masjid.

Karena mereka menganggap tidak adanya dalil shahih yang melarang wanita haid masuk masjid.

Diantara ulama kontemporer yang menguatkan pendapat ini adalah, Syekh Albani –rahimahullah-. (Lihat : Tamamul Minnah, halaman 119)

Alasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak adanya dalil yang melarang wanita haid berdiam di masjid.

Adapun ayat 43 surat An-Nisa di atas, tidak sedikitpun menyinggung wanita haid. Hanya menyinggung orang yang junub. Dan tidak benar mengqiyaskan haid kepada junub. Karena kaidah mengatakan,

لا قياس في العبادة

“Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.”

Disamping itu, haid dan junub adalah dua hal yang berbeda, sehingga tidak bisa diqiyaskan. Diantara perbedaan yang mendasar adalah : wanita haid tidak diperintahkan shalat.

Sementara orang junub tetap diperintahkan shalat. Haid membatalkan puasa dan junub tidak semuanya membatalkan puasa, contohnya seperti mimpi basah.

Demikian pula hadits di atas,

إني لا أحل المسجد لحائض ولا جنب

“Saya tidak menghalalkan (melarang keras) orang yang haidh dan junub (masuk/berdiam) dalam masjid”. (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Menurut para ulama yang membolahkan hadits itu dinilai do’if (lemah) oleh para ulama hadits. Karena diantara rowinya terdapat “Aflat bin Kholifah.” yang dinilai bermasalah oleh banyak ulama hadits.

Diantaranya dinyatakan Imam Baghowi –rahimahumullah-,

وجَوَّزَ أحمد والمزني المكث فيه وضعّف أحمد الحديث لأن راويه وهو أفلت بن خليفة مجهول

Ahmad dan Al Muzani berpendapat wanita haid boleh berdiam di masjid. Dan Ahmad menilai hadis yang dijadikan argumen dalam hal ini (yakni hadits riwayat Abu Dawud & Ibnu Majah di atas) statusnya dho’if. Karena diantara perawinya ada yang bernama Aflat bin Kholifah, dia ini orang yang majhul (tidak dikenal kapabilitasnya dalam meriwayatkan hadis). (Lihat : Syarhus Sunnah 2/46)

“Kalau saja hadits ini shahih, tentu menjadi dalil tegas larangan wanita haid masuk masjid. Sehingga tidak perlu ada perbedaan pendapat. Namun kenyataannya hadis ini do’if, tidak bisa dijadikan dalil,” ujar ustadz Ansori dalam artikel lepasnya.

Rasulullah kata dia, tidak melarang Ibunda Aisyah untuk masuk Masjidil Haram. Yang Nabi larang hanya towaf mengelilingi Ka’bah, karena memang towaf adalah shalat, hanya saja dibolehkan berbicara. Dan wanita haid, memang tidak boleh melakukan shalat.

Sebagaimana diterangkan oleh Syekh Ali Muhammad Farkhus –hafidzohullah-,

ولم يمنَعْها النَّبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم مِنَ الدخول إلى المسجد للمُكْث فيه، وإنَّما نَهَاها عن الطواف بالبيت لأنَّ الطوافَ بالبيت صلاةٌ

Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidak melarang beliau masuk masjid untuk berdiam di dalam masjid. Nabi hanya melarang beliau melakukan thawaf. Karena thawaf mengelilingi Ka’bah adalah shalat. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here