Wamenag Ajak ASN Teladani Nasionalisme KH Agus Salim

194
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi. Foto istimewa.
Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi.

Palu, Muslim Obsession – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi berkisah tentang nasionalisme KH Agus Salim yang mampu menyatukan nilai-nilai agama dengan dialektika kenegaraan.

Kisah ini disampaikan Wamenag saat silaturahim dengan keluarga besar ASN Kemenag Sulawesi Tengah di aula Kanwil, Kota Palu, Selasa (17/12) malam seperti dilansir Kemenag.

Tampak hadir, Plh Dirjen Bimas Islam Tarmizi Tohor, Kakanwil Kemenag Sulteng Rusman Langke, Rektor IAIN Palu dan para Kepala Kankemenag se-Provinsi Sulteng.

Hadir juga, sejumlah pimpinan ormas keagamaan, MUI, NU, Muhammadiyah, PB Al-Khairaat Pusat Palu, Paroki Santa Maria dan Santo Paulus Palu, PGI, PHDI, Permabudhi dan FKUB Provinsi Sulteng.

“KH. Agus Salim, tokoh pejuang kemerdekaan mencoba mempertemukan antara nilai-nilai agama dengan dialektika kenegaraan. Beliau mencoba ‘menikahkan’ Islam dan Nasionalisme,” kata Wamenag.

Nasionalismenya Haji Agus Salim, lanjut Zainut Tauhid, boleh disebut untuk menentang Nasionalisme ‘sekuler’. KH Agus Salim mengusung Nasionalisme religius. Artinya, Islam dan Nasionalisme yang ada dalam benak KH Agus Salim ‘menggerakkan’ dirinya untuk memperjuangkan hidup merdeka, beragama, dan tampil bermartabat di muka bumi.

Oleh karena itu, dijelaskan Wamenag, antara nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kebangsaan seharusnya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya bisa saling melengkapi. Keduanya bisa saling membangun kepercayaan karena pada titik tertentu memiliki tujuan yang sama, yaitu kedamaian dan kesejahteraan bagi warga atau pemeluknya.

Maka bagi kelompok yang masih mencoba memperjuangkan konsep-konsep yang bertentangan dengan kesepakatan berbangsa, Wamenag mengajak agar kembali kepada konsesus kebangsaan, yaitu Pancasila.

“Sejarah telah membuktikan bahwa Pancasila telah memberikan warna yang khas dan mampu membentuk sistem yang “costumable” di negara kita antara umat beragama dengan warga negara,” tegas Zainut.

Kepada seluruh ASN Kementerian Agama, Wamenag pun meminta untuk ikut berkontribusi secara nyata agar nilai-nilai agama tetap memberi warna bagi kehidupan masyarakat.

“Saya meminta kepada semua pihak yang terkait dengan pengembangan ASN Kementerian Agama agar benar-benar mempertimbangkan untuk menyiapkan pegawai dalam menghadapi perubahan besar,” tegas Zainut.

“Jangan pernah berpikir bahwa perubahan akan terjadi pada orang lain, tetapi berpikirlah bahwa perubahan itu telah menimpa kita dengan jelas dan pasti,” tandasnya.

Era perubahan radikal tidak ada yang bisa menghentikan, sehingga harus dipersiapkan dengan baik. ASN Kementerian Agama harus bisa dijadikan role model bagi ASN dari Kementerian/Lembaga lain karena memiliki amanah agama yang menempel pada lembaga.

“Selain itu juga harus mampu membawa arus utama agama agar tetap menjadi pilihan hidup di tengah merebaknya tantangan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri,” tutup Wamenag.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here