Wajib Tahu! Karena Dua Hal Ini Banyak Orang Masuk Neraka

2661
Jaga lisanmu!.

Muslim Obsession – Pada umumnya setiap orang tak ingin masuk neraka. Namun pada kenyataannya, banyak orang yang ‘sengaja’ menjebak dirinya untuk masuk neraka di akhirat kelak. Mereka enggan mengikuti jalan kebenaran yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sekian banyak perbuatan dosa, ternyata ada dua hal yang paling banyak memasukkan pelakunya ke dalam neraka. Apa itu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya bersabda:

Baca juga:

Rasulullah Ajarkan Doa Ini Agar Makan dan Minum Tak Direcoki Setan

Ingin Terhindar dari Maling dan Gangguan Jin? Baca Doa Ini!

Ingin Didoakan 70.000 Malaikat? Amalkan Ini!

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan sesuatu yang ada di antara kedua jambangnya (yaitu lisan, pen.) dan kejahatan apa yang ada di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan, pen.), maka dia masuk surga,” (HR. Tirmidzi no. 2409).

Dua hal dimaksud berdasarkan hadits di atas adalah perbuatan dosa yang dilakukan lisan dan kemaluan. Makna sebaliknya, siapa saja yang mampu menjaga lisan dan kemaluan dari perkara dosa maka akan Allah berikan kepada orang itu pahala surga.

Hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Menjaga lisan juga menjadi tanda benarnya iman seseorang. Dalam Islam, persoalan lisan ini bukan persoalan sepele. Mengingat betapa besar bahaya dosa lisan, kita dapati petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengaitkan benarnya keimanan seseorang dengan apa yang keluar dari lisannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya,” (HR. Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 47. Lafadz hadits ini milik Bukhari.)

Seseorang yang benar dan jujur imannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan menjaga lisannya. Dia hanya akan mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Ketakwaan dan isi hatinya, akan tercermin dari apa yang keluar dari lisannya.

Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan tunduk kepada lisan lalu berkata, “Takutlah kepada Allah untuk kami, kami bergantung padamu. Bila Engkau lurus, kami pun lurus. Dan bila Engkau bengkok, kami pun bengkok,” (HR. Tirmidzi no. 2407, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Adapun menjaga kemaluan, maknanya agar kita senantiasa menjauhi perkara zina. Lagi-lagi bukan perkara sepele.

Kerusakan akibat zina termasuk dampak paling besar karena dapat merusak kemaslahatan mata rantai keturunan, kehormatan alat vital, serta mendatangkan permusuhan dan kebencian yang lebih besar di kalangan manusia, baik dari pihak istri, sahabat, anak perempuan, maupun ibunya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Al-Ma’arij [70] ayat 29-31:

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya, mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang sebaliknya, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”.

Zina juga dikategorikan ke dalam golongan dosa besar. Posisinya bahkan berada tepat setelah dosa pembunuhan. Hal ini Allah jelaskan dalam QS. Al-Furqan [68] ayat 68:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).”

Wallahu A’lam bish Shawab. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here