Wajib Diketahui! Cara Lepas dari ‘Tekanan’ Orang Lain

467
Waspadai kejahatan di sekitar kita.

Muslim Obsession – Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah dan senang menolong seringkali dimanfaatkan orang lain dalam aksi kejahatan. Modus meminta tolong pun kerap dilakukan agar aksi kejahatan yang dilancarkan berhasil.

Berikut ini beredar informasi penting di sejumlah grup WhatsApp tentang perlunya memiliki cara untuk lepas dari ‘tekanan’ orang lain. Tekanan dimaksud merupakan upaya pencegahan agar sebuah kejahatan tidak menimpa pada diri kita.

Dibumbui cerita nyata penulisnya, tulisan berjudul ‘Apa itu Social Engineering???’ berikut ini patut direnungkan, bahkan dipraktikkan dalam kondisi tertentu:

Sebulan lalu saya mengantar Isteri ke sebuah gerai ATM Kantor cabang Bank langganan kami di Cinere untuk mengambil Uang. Setiba di tempat tujuan, ia turun terlebih dahulu sementara saya memarkir Mobil.

Ketika saya menyusulnya masuk kedalam gerai ATM, saya lihat isteri saya tengah bercakap dengan dua orang lelaki yg tidak kami kenal. Saya menghampiri mereka diam-diam sembari mendengarkan percakapannya.

“Jadi begini, Bu,” ujar salah seorang di antaranya. “Saya mau transfer uang ke saudara, namun ATM saya ketinggalan. Saya cuma minta tolong ibu untuk mentransfer dua juta ke nomor rekening ini dan uangnya saya ganti sekarang juga, ini sudah saya pegang.”

“Wah maaf saya tidak bisa membantu Anda,” sahut isteri saya.

“Kenapa, Bu?” tanya salah seorang di antara mereka dengan nada suara meninggi. “Ibu tidak percaya kepada kami?”

“Ya, saya tidak percaya kepada kalian,” sahut saya tegas sembari mendekati Isteri. Kedua orang itu menoleh.

“Bapak siapa? Tak usah campur tangan urusan orang, Pak!”

“Dia Isteri saya. Kalian mau apa? Saya tidak percaya kepada kalian dan kalau tetap memaksa, akan saya suruh orang ramai di luar sana menangkapmu.”

Mereka berdua tampak keder, kemudian bergegas keluar dan menyengklak motornya tanpa menoleh lagi.

Hari Selasa kemarin untuk suatu urusan, saya musti terbang ke Balikpapan. Seperti biasa saya selalu berangkat beberapa jam sebelumnya ke bandara, untuk menghindari kemacetan.

Saat saya hendak check in, orang yang sedang proses check in di depan saya tampak agak kebingungan dengan barang bawaannya. Cukup banyak sehingga melampaui batas yang diperkenankan. Ia kemudian menoleh ke arah saya dan berkata meminta bantuan.

“Pak, saya lihat bawaan bapak sedikit,” katanya sembari menatap saya. “Bisakah saya menitipkan koper saya kepada Bapak?”

Saya langsung menggeleng.

“Maaf, Pak, saya tidak bersedia,” jawab saya tegas.

“Kenapa, Pak? Bapak tidak mempercayai saya?”

“Bagaimana saya percaya Bapak? kenal saja tidak. Pun jika ternyata bagasi Bapak itu berisi barang berbahaya, nantinya di manifest terdaftar atas nama saya. Sayalah yang akan berurusan dengan polisi, bukan Anda.”

“Terus saya harus bagaimana?”

“Itu masalah Anda, bukan urusan saya. Lagipula masih ada solusinya kok, bayar saja kelebihannya.”

Saya lihat counter check in sebelah kosong, petugasnya mengangguk kepada saya. Segera saya bergeser ke sana, mengurus check in dan beranjak masuk ke lounge.

Ada juga seorang ibu ingin ke toilet dan menitipkan anaknya kepada kita atau bayi. Jangan kita menerima karena beliau akan membuat alibi bahwa kita telah menculik anaknya dan sudah dengan skenario dengan beberapa orang.

“Ibu kok gak mau nolong sebentar saja? Sy mau ke toilet, masak bayi di bawa-bawa, apa ibu tega kepada saya?”

Nah ketika kita gelagapan tidak mau, gak enak dan lain-lain.

Atau ada yang minta tolong membelikan minum atau butuh uang receh, jangan mudah memberi jika tidak kenal. Nanti yang minta akan memberikan kita secarik kertas berisi narkoba, dan kita digrebek tiba-tiba jika tidak menuruti. Maka kita akan diperas dengan sejumlah uang sangat besar.

Itulah “Social Engineering”. Sebuah teknik untuk memanipulasi dan mengarahkan perilaku seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan kekuatan hipnotik bahasa, rasa rikuh pakewuh serta preferensi pribadi seseorang terhadap suatu isu.

Sejalan dengan kian berkembangnya teknologi, “Teknik Human Engineering” juga merembes kencang dalam dunia sosial media melalui berita-berita hoax.

Oleh karena itu jangan heran jika dari tukang sampah hingga orang berpendidikan sangat tinggi, bisa terpengaruh karenanya.

Berikutnya, semoga berguna kata kata seperti ini:

“Bapak tidak percaya dengan saya?” Biasanya kita jadi sungkan karena takut menghina mereka, lalu kita jawab: “Bukan begitu…tapi…….”

Nah, di saat itu kita menempatkan diri di bawah kendali mereka. Harusnya langsung saja menjawab: “IYA…SAYA GAK PERCAYA KALIAN…”

Persis dalam cerita di atas. PENJAHAT jadi tahu kita bukan calon korban yang lemah.

SHARE BIAR TIDAK ADA YANG MENJADI KORBAN…!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here