Wajib Baca! 4 Alasan Kenapa Harus Banyak Anak

58
Ilustrasi: Ibu dan anak-anaknya.

Muslim Obsession – “Banyak anak banyak rezeki”, demikian pepatah yang sering kita dengar di tengah masyarakat. Apakah salah pepatah tersebut? Tidak sama sekali.

Bahkan jika hal itu ditanyakan kepada Ustadz Oemar Mita, banyak anak justru berkesempatan untuk mendapatkan benefit, terutama benefit yang akan diraih orangtua di akhirat kelak.

“Memiliki anak itu tidak akan bisa dipahami kecuali oleh mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Ini merupakan hal paling mendasar. Itulah kenapa saya bercita-cita ingin memiliki 12 anak,” ujar Ustadz Oemar lewat sebuah tayangan di akun Instagramnya.

Dai muda kelahiran Kudus, 14 Mei 1979 mengungkapkan, setidaknya ada 4 hal yang menjadi alasan kenapa ia ingin memiliki banyak anak.

“Pertama, memiliki banyak anak membuat saya berpikir bahwa saya adalah orang yang lemah, memiliki banyak dosa dan kemaksiatan. Jadi ketika Allah menggariskan kita untuk mati, maka akan ada banyak tangan anak-anak yang terangkat ke langit untuk mendoakan kita,” ungkapnya.

BACA JUGA: Memuliakan Anak Yatim dan Rezeki Tak Terduga

Alumnus Pondok Pesantren Darusy Syahadah ini menjelaskan, ada tiga orang yang akan setia setelah seseorang meninggal dunia, yaitu orangtua (jika masih hidup), pasangan (jika masih hidup), dan keturunan (anak-cucu).

Setiap orang sesungguhnya tahu dan mengerti bahwa semua orang akan mati. Lalu siapa yang dibutuhkan ketika ia telah mati selain amal jariyah yang ditanam selama hidup? Tentunya ia membutuhkan anak-anak yang setia untuk mengangkat tangan berdoa kepada Allah Ta’ala untuk keselamatan orangtuanya.

Ustadz Oemar mencontohkan, ketika anak pertama kurang shalih, maka masih ada tangan anak kedua. Jika anak kedua pun kurang shalih, masih ada tangan anak ketiga dan itulah yang akan membuat lapang kuburan orangtuanya di kehidupan akhirat.

“Jadi, ada anak-anak yang tanpa letih mendoakan kita disebabkan berbagai macam benih-benih ketulusan yang kita tanamkan kepada mereka ketika mereka kita rawat selama kita hidup,” jelasnya.

BACA JUGA: Doa untuk Anak Kecil dari Al-Habib Umar bin Hafidz

Alasan kedua yang disampaikan alumni Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) ini, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar jika ada dosa yang tidak bisa dihapuskan kecuali dengan keletihan dan kerepotan saat merawat dan mendidik anak-anak.

Ia menukil pernyataan Imam Ibnul Qayim yang mengatakan bahwa sesungguhnya ada dosa-dosa manusia yang tidak bisa dihapus kecuali karena kelelahan dan keletihan yang dia rasakan ketika merawat anaknya dengan niat karena Allah, sampai kemudian Allah menghapuskan dosa-dosanya tersebut.

Konteksnya tentu berbeda dengan mereka yang diuji oleh Allah dengan tidak memiliki keturunan. Maka keridhaan mereka melewati ujian tersebut bisa menjadi sebab gugurnya dosa-dosa mereka.

“Jadi dalam setiap kelelahan dan keletihan yang kita rasakan saat merawat anak-anak kita, maka sesungguhnya ada dosa-dosa yang berguguran setiap harinya, selama kita meniatkan hal itu hanya untuk Allah Ta’ala,” kata Ustadz Oemar.

Ketiga, memiliki banyak anak sesungguhnya memperbesar harapan setiap orangtua agar tangannya kelak akan dituntun anak-anaknya menuju surga.

BACA JUGA: Begini Tips Menasehati Anak Laki-Laki, Salah Satunya Jangan di Waktu Lapar!

Ustadz Oemar menyampaikan, terdapat hadits Rasulullah yang diriwayatkan Muslim menyebukan bahwa di Yaumil Hisab ada orangtua yang tercecer di belakang sementara anak-anak mereka sudah menyeberangi shirat dan berhenti di depan pintu surga.

Ketika Allah memerintahkan mereka masuk surga, anak-anak itu mengatakan bahwa tidak akan masuk surga kecuali menjumpai bapak-ibunya di dalam surga. Padahal bapak-ibunya tercecer di belakang karena sibuk dengan urusan hisab yang sangat berat.

Allah Yang Maha Rahim kemudian mengizinkan anak-anak itu memberikan pertolongan bagi bapak-ibunya. Hingga akhirnya, kedua orangtua mereka diringankan hisabnya dan disegerakan menyeberangi shirat untuk menjumpai anak-anak mereka yang telah menunggu di depan pintu surga. Allah lalu berfirman, “Masuklah kalian bersama bapak dan ibumu”. Anak-anak itu pun akhirnya menggenggam tangan orangtuanya dan menuntun keduanya memasuki pintu surga.

“Bagi mereka yang tidak punya keimanan terhadap Hari Akhir, tentu hal ini tidak akan dipercaya,” jelasnya.

BACA JUGA: Memang Ribet! Tapi Anak-Anak Harus Makan Ikan Agar Sehat dan Cerdas

Alasan keempat yang dikemukakan Ustadz Oemar adalah bahwa ada sensasi yang tidak bisa diungkapkan saat orangtua mencium bau anak-anak, melihat mata polosnya, dan lainnya. Selain itu, setiap orangtua sejatinya tidak akan pernah bisa belajar menjadi lebih baik jika ia tidak memiliki anak.

“Berapa banyak orangtua yang hijrah disebabkan oleh anak? Berapa banyak orangtua yang meninggalkan kemaksiatan gara-gara anak? Berapa banyak orangtua yang meninggalkan rokok gara-gara anak? Berapa banyak seorang bapak yang meninggalkan zina ketika ia dikaruniai anak perempuan?” ungkapnya.

Oleh karenanya, sambung Ustadz Oemar, memiliki anak merupakan salah satu di antara tatanan kualitas kehidupan. Mungkin jika seseorang tidak punya anak, ia masih malas-malasan, capek sedikit langsung marah, masih suka main game, dan beragam perilaku tidak baik lainnya.

“Nah, ketika ia punya anak maka perlahan kebiasaan tidak baiknya itu akan ditinggalkan. Ia akan bekerja dan lebih giat untuk memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anaknya,” pungkasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here