Virus Corona Harus Jadi Momentum Gerakan Dakwah Bagi Kader Parmusi

759

Jakarta, Muslim Obsession – Wabah virus corona tidak perlu disikapi secara berlebihan dengan memunculkan rasa takut yang mendalam. Sebagai umat Islam, khususnya para Dai Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), adanya virus corona ini justru harus dijadikan sebagai momentum berdakwah.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Parmusi H. Usamah Hisyam saat memimpin rapat menyikapi adanya wabah virus corona jelang pelaksanaan Muktamar IV Parmusi yang akan berlangsung pada 27-29 Maret 2020. Usamah mengadakan rapat bersama jajaran pengurus pusat, serta panitia Muktamar di Parmusi Center.

Usamah mengatakan, sebagai Ormas Islam, Parmusi tidak boleh menunjukan rasa sikap takutnya yang berlebihan dengan adanya virus corona ini. Namun, para kader sekaligus Dai Parmusi justru harus ikut menenangkan masyarakat agar tidak panik, dengan mengajak untuk berikhtiar secara batin, yakni mendekatkan diri kepada Allah.

“Jadi mestinya wabah corona ini harus menjadi lahan dakwah bagi para kader dan juga Dai Parmusi untuk mengingatkan kita semua agar kembali kepada Allah. Ini momentum bagi Dai Parmusi untuk melaksanakan dakwah secara masif,” ujar Usamah di Parmusi Center, Jakarta Senin (16/3/2020).

Parmusi kata dia, harus menjadi yang terdepan dalam menyikapi virus corona ini secara ukhrowi. Misalnya dengan mengadakan dzikir dan doa bersama dengan masyarakat. Memohon ampunan dan perlindungan. Mengajak masyarakat untuk meningkatkan lagi keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Karena hanya Allah yang bisa mendatangkan, dan menghilangkan segala penyakit.

“Parmusi harus menjadi yang terdepan, ajak masyarakat untuk melakukan dzikir dan doa bersama. Jadikan ini sebagai bentuk penyadaran bagi masyarakat bahwa kita ini aslinya manusia yang lemah di hadapan Allah, tidak punya daya dan kekuatan selain atas pertolonganNya,” tandas Usamah.

Usamah melihat belum ada umat Islam yang melakukan dzikir akbar serta doa bersama dalam menyikapi musibah ini. Bahkan elite pemerintahan, atau para pemimpin negeri ini juga tidak ada yang mengeluarkan statmen berupa ajakan agar masyarakat kembali kepada Allah, yakni dengan meningkatkan ibadah, dan menggelar doa bersama.

“Saya belum liat itu, elit pemerintah hanya sekedar melakukan upaya pencegahan secara lahiriah, dengan menutup dan memperketat akses ruang publik. Serta mengajak pola hidup sehat. Pecegahan secara lahiriah memang tidak salah, tapi upaya pencegahan secara batiniah juga perlu dilakukan, karena sebagai hamba yang beriman kita harus percaya bahwa hidup dan mati itu milik Allah,” paparnya.

Usamah menegaskan, jika yang ditakuti dari corona adalah kematian, maka jelas kematian itu bukan di tangan corona tapi di tangan Allah, Dia lah yang menentukan kematian setiap mahkluknya. Bahkan jika diliat angka kematian corona di Indonesia lebih kecil dibanding kematian yang disebabkan karena narkoba, kecelakaan lalu lintas, dan wabah penyakit lain.

“Kalau yang ditakuti corona itu adalah kematian, setiap detik, setiap hari juga ada orang mati di Indonesia jumlahnya bisa sampai ratusan. Bahkan ribuan. Data dari Korlantas setiap hari rata-rata ada 80 orang mati karena kecelakaan. Lalu data dari BNN ada 40 orang mati di Indonesia karena narkoba. Mestinya itu lebih menakutkan dari pada corona. Sekarang berapa jumlah orang yang mati karena corona,” tanya Usamah

“Di Indonesia ada 7 orang,” jawab salah satu peserta rapat.

Usamah kembali mengingatkan bahwa waspada tetap boleh dan perlu dilakukan, tapi jangan sampai berlebihan menyikapinya. Ia khawatir jika masyarakat terlalu panik, takut keluar dan beraktivitas, akan berdampak pada perekonomian nasional. Toko-toko pada tutup, PHK masal bisa terjadi dimana-mana. Roda ekonomi tidak berputar, dan ujung-ujungnya masyarakat kecil yang akan dirugikan.

Sementata itu, Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) Pusat, KH. Syuhada Bahri menambahkan dalam menyikapi virus corona ini, seolah-olah banyak merasa menghilangkan peran Allah di dalamnya. Mereka seolah lupa bahwa virus itu adalah mahkluk Allah. Dan Dialah (Allah) yang bisa mendatangkan dan menghilangkan virus itu dari tubuh manusia.

“Ciri orang-orang yang materialisme dan pragmatisme itu menganggap yang bisa bisa menyembuhkan penyakit itu obat. Kalau kita minum obat ini kita akan sembuh dari penyakit ini, penyakit itu. Jadi dengan obat, kita seolah-olah menghilangkan peran Allah yang sejatinya Dialah yang Maha bisa menyembuhkan. Bukan obat,” katanya.

Termasuk memisahkan hubungan antara agama dan negara (Sekularisme). Menurut KH. Syuhada itu tidak tepat. Sebab, semua yang ada dilangit dan di bumi itu kepunyaan Allah. Infastruktur yang dibangun sebuah negara, bahkan kekayaan yang ada di dalam sebuah negara itu milik Allah. Maka tidak sepatutnya pemerintah, atau siapa pun menghilangkan peran Allah dalam mengatur kehidupan di dunia ini.

“Jangan sekali-sekali kita meninggalkan Allah dalam kehidupan kita. Karena semua ada di bumi dan di langit adalah miliknya. Dan hanya kepada Allah kita kembali. Semua tidak akan terjadi tanpa ada izin dan kuasaNya,” tandasnya.

Adapun mengenai Muktamar Parmusi, pihak Pengurus Pusat bersama Panitia memutuskan Muktamar Parmusi tetap akan berlangsung sesuai dengan rencana awal, yakni 27-29 Maret 2020, sepanjang tidak ada regulasi pemerintah, force majeure atau alasan konstitusional lain yang dapat membatalkan penyelenggaraan Muktamar.

Karena setelah dipertimbangkan dari berbagai aspek lebih banyak manfaat dari pada mudhoratnya terutama ditinjau dari dakwah Islamiyah, konstitusi organisasi dan implikasi ekonomi masyarakat.

Pengurus Pusat juga meminta kepada seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah Parmusi untuk mendaftarkan peserta kepada panitia Muktamar selambat-lambatnya pada 20 Maret 2020. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here