Utrecht Affair, Amir Hamzah, dan Amanat Pak Natsir

647

Belajar dari Roem

SESUDAH dikeluarkan dari Universitas Brawijaya, Amir Hamzah praktis tidak punya penghasilan tetap. Akan tetapi, karena matang oleh tempaan PII dan HMI, ia tidak lantas duduk bertopang dagu meratapi nasib.

Amir Hamzah melanjutkan hidupnya, pulang ke kampung istrinya di Singosari, Malang, dan aktif di Muhammadiyah Singosari.

Beruntunglah Amir Hamzah punya mertua cukup berada. Secara rutin mertuanya mengirim beras. Kiriman beras juga diterima  Amir Hamzah secara rutin dari  Ustadz A. Kadir Hassan Bangil. Sedangkan sayuran bisa dipetik di kebun mertua yang luas.

Setelah lama tidak punya pekerjaan tetap, mertuanya yang baik hati memberi toko agar Amir Hamzah bisa berjualan sebagai sumber penghasilan. Sambil menyerahkan toko, sang mertua berpesan kepada sang menantu agar menunggu “itungan weton” sebelum memulai berdagang.

Beberapa hari kemudian, sore menjelang maghrib, melalui istri, Amir Hamzah mendapat perintah dari  mertuanya. Perintah itu cukup unik: “Besok toko harus mulai dibuka. Berangkat dari rumah sebelum jam 8 pagi. Keluar harus menghadap utara, dan datang ke tokonya dari arah utara.”

Mendapat perintah itu, istri Amir Hamzah bingung. Rumahnya menghadap ke selatan, bagaimana keluar harus menghadap utara?

Datang ke toko harus dari utara, padahal posisi pasar tempat tokonya ada di utara rumah. Yang tidak kurang penting,  apa yang mau dijual? Modal tidak ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here