Ustaz Bukhori Abdul Shomad: Paradigma Dakwah Parmusi Bergerak Paling Cepat

557

Jakarta, Muslim Obsession – Di bawah kepemimpinan H. Usamah Hisyam, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) kini telah berubah secara fundamental dari gerakan politik menjadi gerakan dakwah. Meubah mindset dari pola pikir politik ke dakwah memang tidak mudah. Sebab, naluri politik kader-kader Parmusi sudah terlanjur mengakar sejak puluhan tahun yang lalu.

Namun, Usamah mampu membuktikan, bahwa Parmusi menjadi satu-satunya organisasi yang bisa melakukan transformasi nilai tercepat dari gerakan politik menjadi gerakan dakwah. Bahkan, cara pandang itu kini mulai diterima dan diikuti bukan hanya oleh para kader-kader Parmusi, tapi juga lapisan masyarakat di desa-desa.

Hal itu dikatakan oleh Wakil Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP), Ustaz Bukhori Abdul Shomad, saat bersilaturahmi dengan jajaran Pengurus Wilayah Parmusi Provinsi Lampung yang juga diikuti oleh jajaran Pengurus Daerah Parmusi se Provinsi Lampung, Selasa (17/9/2019) bersama para Pengurus Pusat Parmusi yang dipimpin Usamah.

“Pengamatan saya, tidak ada ormas yang dengan cepat melakukan perubahan paradigma baru secepat Parmusi. Puluhan tahun organisasi ini dikenal masyarakat dengan gerakan politiknya. Namun sekarang, wajah Parmusi sudah berubah menjadi lebih terhormat dengan gerakan dakwahnya,” ujar pria yang akrab disapa UBAS itu.

Perubahan itu dampaknya sudah terlihat di mana Parmusi berhasil tembus ke daerah-daerah terpencil di luar Pulau Jawa untuk mengembangkan dakwahnya. Hal itu ditandai dengan dibentuknya Desa Madani, sebuah program unggulan Parmusi dengan menjadikan dai sebagai pelaksana tugas di lapangan. Desa Madani ini dibentuk dalam rangka mensejaterakan umat lahir dan batin.

Menurutnya, keputusan Usamah merubah arah perjuangan Parmusi lima tahun lalu dalam Muktamar Parmusi di Batam sudah sangat tepat. Sebab, dengan gerakan dakwah, Parmusi akan lebih mudah diterima masyarakat, dan bisa jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Karena dakwah itu adalah metode yang paling ampuh untuk menyentuh hati masyarakat dibanding politik.

“Itulah sebabnya mengapa para dai dan ustaz itu punya santri atau jamaah yang begitu besar di masyarakat. Mereka ditaati dan disegani karena hidupnya didedikasikan untuk perjuang di jalan dakwah. Mereka mampu mengambil hati umat, hubungan mereka sudah terjalin dalam ikatan cinta lillah. Dan itu juga yang sekarang tengah dilakukan Parmusi,” jelasnya.

UBAS mengaku bahwa dirinya adalah tipe orang yang tidak gampang untuk bergabung dalam sebuah organisasi, terlebih jika itu organisasi politik. Namun, kini dia merasa mantap bergabung dengan Parmusi. Ada dua alasan yang mendasari. Pertama, karena ada persamaan visi perjuangan di medan dakwah illallah.

“Kedua karena saya melihat ada ketulusan dan keikhlasan lahir batin dari sosok Ketua Umum Usamah Hisyam dalam berjuang di medan dakwah ini. Totalitas Ketum ini sangat tinggi, bukan hanya waktu, tenaga, pikiran bahkan materi ia sumbangkan untuk berdakwah dari kampung ke kampung,” jelasnya.

Ia menegaskan kehadiran Usamah di Lampung dalam perjalanan Kafilah Dakwah Parmusi di Pulau Sumatera selama 10 hari adalah bukti kecintaanya dalam dunia dakwah. Padahal, ia sendiri kondisinya belum begitu sehat karena baru saja selesai operasi jantung. “Jadi sabagai anak buah, para pengurus di bawah ini seharusnya malu, kalau semangat kita kalah dengan ketum,” tegasnya disambut tepuk tangan.

UBAS yang juga seorang dosen di UIN Lampung ini mengajak kepada semua pengurus Parmusi agar terus semangat menggelorakan perjuangan dakwah untuk kemaslahtan umat dengan membesarkan Parmusi di seluruh Indonesia. Dengan dakwah, kata dia, tidak perlu takut pengaruh politiknya akan berkurang. Justru dakwah bisa memperkuat kepribadian politiknya di masyarakat.

“Nabi Muhammad itu membangun Kota Madinah sebagai kepala negara bukan dengan cara politik kekuasaan, tapi awalnya adalah dari gerakan dakwah. Dakwah Nabi bukan hanya moral yang dibangun, tapi ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan beliau bangun. Konsep dakwah seperti itu sekarang juga dilakukan oleh Parmusi dengan konsep Desa Madaninya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Parmusi Provinsi Lampung, Hanafi Aman menambahkan, bahwa Parmusi di wilayahnya sudah siap untuk mengimplementasikan program-program keumatan Parmusi, yakni membentuk Desa Madani. Kesiapan itu ditandai dengan terbentuknya pengurus daerah di hampir seluruh Lampung dengan menempatkan para dai di struktur.

“Secara struktur sebenarnya kita sudah siap, hanya saja perlu kita matangkan lagi melalui forum musyawarah wilayah yang rencananya akan diadakan pada 22 Oktober mendatang. Setelah itu kita akan mulai menembus desa-desa membentuk Desa Madani Parmusi,” jelasnya.

Usamah yang juga didampngi Ketua Majelis Penasihat PP Muslimah Parmusi Daisy Astrilita, turut menambahkan bahwa perjalanan ke Sumatera ini tidak lain dalam rangka implimentasi program dakwah Parmusi dengan meresmikan Desa Madani di empat kota, yakni Sumut, Sumbar, Jambi dan juga Sumsel.

Desa Madani ini dikelola oleh para Dai Parmusi. Untuk itu, demi mewudkan program itu di Lampung, Usamah mengarahkan agar setiap pengurus daerah di Lampung harus miliki dai, minimal satu dai satu kecamatan.

“Untuk mengimplementasikan Desa Madani harus ada dai pelaksana di lapangan. Karena itu, pengurus daerah Parmusi di Lampung ini ke depan harus punya dai, minimal satu dai satu kecamatan,” tandasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here