Ustadz Abdul Somad: Tahlilan Ada Sejak Tabi’in

46937
Ustadz Abdul Somad
Ustadz Abdul Somad (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Umat Islam di Indonesia sudah sangat akrab dengan tradisi tahlilan. Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai ta’ziyah di kediaman keluarga orang yang meninggal dunia.

Meski telah lama menjadi tradisi, namun tak banyak umat Islam mengetahui asal-usul tahlilan dan bagaimana posisi hukumnya dalam syariat Islam.

Dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube, Ustadz Abdul Somad menguraikan secara cukup jelas persoalan ini. Ustadz yang akrab disapa UAS ini awalnya ditanya seorang jamaah, apakah tahlilan dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memetik tali yang dia simpul dua ribu simpul, barulah setelah itu ia tidur malam..subhanallah, subhanallah. Itu tidak pernah dilakukan Nabi. Jadi jangan pertanyaannya pernahkah itu dilakukan Nabi?” ujar UAS mengawali penuturannya.

Ia kemudian menegaskan dengan riwayat sahabat Nabi lainnya, Abdurrahman bin Auf. Menurut UAS, Abdurrahman bin Auf setiap masuk rumah selalu membaca Ayat Kursy di empat pojok rumahnya. Hal tersebut tidak pernah dilakukan Nabi. Riwayat ini terdapat dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala yang ditulis Imam Adz-Dzahabi.

Terkait tahlilan, jelas UAS, tradisi 7 hari, 40 hari, membuat kenduri, berbagi makanan, dan mengirim doa, semuanya tidak dilakukan Nabi dan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, maupun Ali.

“Tapi ada dalam fatwa tabi’in yang namanya Imam Atho’. Kata Imam Atho’ ulama dari kalangan tabi’in, orang yang meninggal dunia maka ia diuji di kuburnya selama tujuh (atau) empat puluh hari, maka dianjurkan bersedekah dan berkirim doa,” kata UAS.

Dalam kajiannya itu UAS menambahkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya seseorang yang ibunya meninggal, ‘Apakah aku boleh bersedekah untuknya?’ Nabi menjawab, ‘bersedekahlah’. Lalu Nabi kembali ditanya, ‘Sedekah apa yang paling utama?’, Nabi menjawab, ‘sedekah memberi air minum’.

Kendati demikian UAS mengingatkan, jangan sampai gara-gara tradisi ini orang-orang miskin sampai berutang untuk menggelar kenduri tahlilan. “Sudah jatuh ditimpa tangga, diterkam kucing!” seloroh UAS.

UAS menegaskan, sebaiknya keluarga yang ditinggalkan justru mendapat perhatian dan bantuan. Hal ini merujuk pada hadits Rasulullah, “Ja’far sudah meninggal, maka buatkan makanan untuk keluarganya karena mereka sedang susah”.

“Tapi bagi yang kaya dan ia mau bersedekah, silakan!” jelas UAS. (Fath)

 

17 KOMENTAR

  1. Mungkin akan ada yg mengatakan, kasihan kalo yg ditinggalkan keluarga yg miskin, mereka akan dibebankan lagi untuk memberi makan tamu tahlilan
    Ditempat saya, tak harus memberi bingkisan/becek yg mahal, meskipun toh cuma dikasih Air minum sama cemilan kacang atau jagung misalnya, kami masih datang untuk tahlilan, karena Ustadz kami mngatakan, Tahlilan itu sama saja kita menanam jasa, kita mendoakan orng yg sudah meninggal, dan suatu saat ketika kita meninggal, akan ada yg mendoakan kita, dan yg sudah meninggalpun akan turut mendoakan kita yg masih hidup
    Lagian ketika ada orang meninggal, para tetangga pun berboyong untuk takziah dan membawa santunan, tempat saya biasanya membawa beras, kan nanti bisa dijual dan uangnya bisa untuk menggelar acara tahlillan, jdi insyaAllah tidak memberatkan keluarga yg ditinggalkan

  2. Kurang Tegas(Ambigu) Ustadz Abdul Somad semestinya Bukan Perkara Sedekah Yang Menjadi Dasar Persoalan Tahlilan yang Jelas Mayoritas Muslim Yang diundang Tahlilan Oleh Keluarga mayyit telah berubah yaitu Tak Sholat Fardhu datang Tahlilan bagi yang meninggal(Tak Sholat pula) Dengan Tujuan kirim Do’a bagi Si mayyit Apakah Ada Hadits yang menyatakan Secara detail Tak Sholat Fardhu Tapi Masuk Surga?

    • Solat fardu lebih utamain bro
      Tahlilan dilakukan setelah solat fardu, ya intinya pas waktu senggang, bagi mereka yang tidak solat fardu ya dosa bagi mereka.
      Soalnya tahlilan adalah sedekah doa, gk di ikutin jg gpp.
      Jangan mengklaim tahlilan lebih utama dari solat fardu, hanya untuk kepuasan jawabanmu sendiri, padahal kalian udah tau bahwa isi tahlilan adalah zdikir baca alqur an dan doa, itu smua di anjurkan untuk umat muslim.

    • Berdzikir itu dan berdo’a itu, hubungan langsung makhluk dengan Rabb nya.. jadi, tidak perlu ada pemandu.. ga masuk akal ketika kita mau minta dibelikan jajan ke orang tua kita, harus dipandu melalui tetangga kita..
      sudah pada hapal kan, hanya 3 hal yg tidak putus kepada orang yg sudah mati ?? kalau gitu, apakah do’a tetangga bisa sampai?! ataukah nabi Muhammad mengajarkan hal yg salah dan kita yg lebih benar dari beliau?!
      Terakhir, yg dianjurkan adalah para tetangga yg memberikan makanan dan menghilangkan kesedihan keluarga yg ditinggalkan karena itu adalah musibah.. Lalu, apakah semua acara Tahlilan digelar oleh tetangga, menggunakan biaya tetangga, dan menggunakan rumah tetangga agar si keluarga tidak direpotkan??! Mau sok ikut mendo’akan, tapi malah ngerepotin keluarga si mayit dan ngarepin dapet besek.. ga tau malu.

      • Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut.
        عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

        Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

        Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa

        وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

        Bahwa, disunahkanmembacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

        Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan doa, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa untuk mayit.

        Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah SAW pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

        Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.

        Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan:

        وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

        Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.

      • Yg benar itu diem.. kalo merasa sudah pas dengan ajaran mu.. laksanakan dengan baik..kalo orang lain tidak sepaham dengan anda.. cukup diem.. Rasulullah tidak mencontohkan kalo kamu paling benar.. paham

  3. kang sulee……oooalah kalo yang kau pakai dasar hukumya hanya itu, dan itu yang kau tahu jangan dulu di pakai nyalahkan ormas lain, kelihatan sekali keilmuanmu masih dasar sekali….belajar agama lagi aja biar luas wawasanya tentang ilmu agama islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here