Usamah Hisyam: Umat Islam Perjuangkan Kemerdekaan Pers, Sekarang Jadi Korban

686
Usamah Hisyam - FORJIM 2
Ketua Umum PP Parmusi, H. Usamah Hisyam, menilai ada oknum-oknum yang ingin mematikan media Islam.

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi), H. Usamah Hisyam, bertutur soal kemerdekaan pers, dimana pada 1998 dirinya menjadi anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP.

Menurutnya, saat itu Fraksi PPP sangat fokus memperjuangkan lahirnya UU Kemerdekaan Pers yang saat ini menjadi UU Nomor No 40 Tahun 1999.

“Saya kebetulan jadi juru bicara Fraksi PPP, dan kenapa UU ini lahir? Karena ciri dari Reformasi adalah terwujudnya kemerdekaan pers,” ujar Usamah saat berbicara sebagai Keynote Speech di Musyawarah Nasional (Munas) ke-1 Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Gedung Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kebagusan, Jakarta Selatan, Jumat (5/1/2018).

Waktu itu, lanjut Usamah, Fraksi PPP mengusulkan paradigma pers diubah dari bebas bertanggung jawab menjadi bebas profesional. Bebas profesional yang dimaksud adalah perusahaan pers tersebut harus profesional dan jelas bisa memenuhi standar gaji karyawannya. Lalu produk jurnalistiknya juga harus jelas, akurat, dan terpercaya.

Namun, setelah Reformasi berlalu, saat ini Usamah merasakan kemerdekaan pers seolah ingin dimatikan. Faktanya banyak media-media Islam yang diblokir pemerintah. Kejadian seperti ini mirip seperti Orde Baru.

“Bedanya sekarang yang dibredel atau yang kena sasaran adalah media umat Islam. Ini tidak boleh dibiarkan,” ujar Usamah.

Usamah menegaskan, penghapusan media Islam jelas bertentangan dengan UU Kemerdekaan Pers, bahkan UUD 1945.

Usamah juga merasa aneh karena yang pertama mempelopori kebangkitan pers dengan lahirnya UU tersebut adalah kelompok Islam. Tapi justru sekarang umat Islam sendiri yang jadi korbannya.

“Ada upaya untuk mematikan kebebasan pers terutama karena takut kebangkitan media Islam. Ini aneh karena yang pertama memperjuangkan lahirnya UU Kebebasan Pers umat Islam, justru sekarang menjadi korban,” jelasnya.

Usamah yakin saat ini memang ada oknum-oknum yang tidak ingin menghendaki umat Islam bangkit terutama di wilayah kebangkitan pers. Padahal, kata dia, sebagai umat mayoritas di Indonesia, ini bisa menjadi modal besar bagi munculnya kekuatan gerakan Islam yang dimulai dari media-media Islam.

Munas Forjim yang mengambil tema “Mengukuhkan Jurnalis Muslim Sebagai Agen Perubahan” diadakan sampai Sabtu (6/1/2017). Usamah berharap perubahan itu bisa benar-benar terwujud dengan lahirnya jurnalis-jurnalis Muslim yang punya kekuatan menulis yang hebat dan daya kritis. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here