Untung Apa Punya Anak?

68

Oleh: Felix Siauw (Pengemban Dakwah)

Kalau mau dipahami dari sudut pandang logika ansih materialis, berkeluarga itu absurd. Karena jelas susahnya, mengharuskan komitmen, berbiaya besar, high-risk low-gain max-efforts min-results.

Andaipun ada yang bilang, tapi kan bahagia? Nah itu, dalam konsep logika materialis, bahagia itu adalah kesenangan yang bisa disewa, non-permanen, instan dan sekali pakai.

Mereka lebih menikmati hubungan tanpa status, punya kenikmatan suami-istri tapi tanpa komitmen. Anak-anak bisa diganti dengan pets, sebagaimana di Jepang atau di Amerika.

Saya pernah bertanya ke temen-temen di Jepang, “Kenapa pada nggak punya anak?”. Jawabannya, karena matematika mereka hebat. Berhitung sampai rinci, kesimpulannya punya anak itu rugi.

Sekali lagi logika materialis. Kita kerja keras bagai quda, hasilnya 70-80% justru untuk anak-anak. Pendidikan, sandang, pangan, papan, ujungnya saat nikah, hasilnya dinikmati orang lain.

Itulah pentingnya Islam. Karena Islam memandang manusia tidak hanya fisik tapi juga jiwa, tidak hanya logika tapi juga rasa. Dan dalam Islam, kenikmatan sebab maksiat, itu fatamorgana.

Sebagaimana para pemabuk yang mengira khamr adalah obat, atau pemadat yang mengira narkoba adalah bahagia. Maksiat takkan pernah memberikan kebahagiaan sejati bagi manusia.

Islam memberi bahagia dari definisi yang mencipyakan manusia. Dengan komitmen pernikahan, atau menjadikan anak sebagai hiasan terbaik, atau orangtua sebagai sumber bahagia utama.

Maka sebagaimana kita dididik dengan baik, kita berusaha mendidik lebih baik. Karena bahagia itu bukan hanya tentang untung rugi dan hitungan saja, bahagia itu tentang visi hidup.

Bahwasanya, kelak, bila bukan mata kita yang melihat bangkitnya dan indahnya Islam. Maka anak-anak kita yang harus melihatnya, atau kita bawa lebih dekat lagi ke masa itu.

Atau sekedar sebuah harapan, saat di yaumil hisab, saat wajah kita tertunduk sebab riya dan hasad yang mendahului amal salih. Maka ada yang memanggil kita, didampingi malaikat surga.

Lalu berucap, “Abi, Ummi, temenin kita di surga ya…”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here