Untuk Semua Guru di Negeriku

574

Oleh: Muslich Taman (Guru SMAN I Rumpin, Kader TOT 1 Bela Negara Kemhan RI)

Menurut Prof. Ahmad Tafsir, berbicara Guru adalah berbicara elemen terpenting dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Guru adalah pendidik kedua bagi setiap manusia, setelah orangtua di rumahnya. Mereka menghadapi tantangan, sebagaimana tantangan yang dihadapi setiap orangtua.

Guru, hendaknya menjadi sosok terdepan dalam kebaikan, di hadapan para muridnya, dan masyarakat tempat sang guru berada. Lebih dahulu berbuat, sebelum berucap. Mengutamakan teladan dengan perbuatan, daripada sekadar mengajar dengan ucapan.

Terkait hal di atas, dulu Rasulullah pernah mengingatkan. Diriwayatkan dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ia berkata: saya mendengar Rasulullah bersabda,

يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِي النَّارِ إِلَّا أَنَّهُ زَادَ فِيهِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَطْحَنُ فِيهَا كَطَحْنِ الْحِمَارِ بِرَحَاهُ فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ

“Ada seseorang didatangkan pada Hari Kiamat, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka, hingga ususnya terburai keluar. Ia berputar-putar di neraka layaknya keledai mengitari alat penumbuk gandum. Kemudian penduduk neraka mendekatinya.”

فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ

“Mereka mengatakan: ‘Hai Fulan! Bukankah dulu engkau adalah orang yang memerintahkan kami pada kebaikan dan mencegah kami dari kemungkaran?”

فَيَقُولُ إِنِّي كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا أَفْعَلُهُ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ

“Ia menjawab: ‘Benar, dulu aku memerintahkan kalian kebaikan, namun aku tidak melakukannya. Dan aku mencegah kalian dari kemungkaran, namun aku justru melakukannya.” (HR. Ahmad)

Menurut hemat saya, hal terpenting pada momen hari guru kali ini adalah:

1) Bersyukur dan bangga. Setiap guru harus bersyukur dan bangga dengan profesi yang telah dipilih dan dijalaninya. Sembari rasa kesyukuran dan kebanggaan yang ada, diikuti sikap tanggung jawab menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Bersyukur dan bangga, karena profesinya sekaligus menjadi investasi akhirat yang sangat menjanjikan.

2) Bermuhasabah (introspeksi diri) atas profesi yang dijalaninya. Apakah selama ini hanya sekadar rutinitas, setiap hari berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah?

Atau ia telah dijalani dengan sungguh-sungguh, disadari sebagai perjuangan menegakkan amanah. Sehingga, senantiasa dibarengi meningkatkan kualitas kompetensinya? Selain mengajar, juga terus belajar.

Guru yang berhenti belajar, saatnya berhenti mengajar. Kenapa? Karena zaman begitu cepat berubah. Dan guru, secara otomatis dituntut harus mampu mengawal perubahan itu.

Juga yang sangat urgen bagi setiap guru adalah, mendidik karakter dengan karakter. Itulah hal penting yang dituntut dari mereka, dulu dan kini.

Guru yang bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga internalization of values. Dan, itu hanya terjadi dengan dan oleh guru-guru yang berkarakter.

Sesungguhnya, manusia menjadi manusia bukan semata-mata karena jasmaninya, tetapi terutama karena jiwanya. Barkarakter.

Menurut Imam Al-Ghazali, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap guru:

1) Guru harus menyayangi muridnya, sebagaimana ia menyayangi anaknya sendiri.

2) Guru hendaknya berusaha meneladani akhlak mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah, dan mengajarkan kepada muridnya.

3) Tidak merendahkan ilmu, selain ilmu yang diajarkannya.

4) Mengajarkan ilmu sesuai tingkat kematangan dan daya tangkap muridnya.

5) Perkataannya tidak boleh bertentangan dengan realitas perbuatannya.

Itulah tulisan sederhana sebagai ‘kado spesial’ yang kupersembahkan untuk semua guru tercintaku, dari bayi hingga hari ini. Di bangku formal sekolahan, maupun di alam bebas semesta kehidupan.

Untuk semua guruku yang hebat, yang telah mencurahkan bekal terbaik hidupku. Demi kebahagiaan dan keselamatanku di dunia dan akhirat.

Ku mengagumi dan memuliakan Engkau semua, bahkan selalu mengirimkan doa, bukan karena tampan wajah, atau mahal baju dan sepatu yang Engkau pakai. Tetapi karena ilmu dan ketulusan pengorbanan-Mu.

Bogor, 25 Nopember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here