UNICEF: Tak Ada Kata-kata Lagi Untuk Gambarkan Penderitaan Suriah

982
Seorang pria menyelamatkan anak perempuan saat pemboman di kota Hamouria yang dikuasai pemberontak, di wilayah pengepungan Ghouta Timur (Photo: AFP)

Suriah, Muslim Obsession – UNICEF telah merilis sebuah pernyataan kosong tentang serangan tiada habisnya yang mengguncang Suriah.

UNICEF mengungkapkan, tidak ada kata-kata lagi yang tersisa untuk menggambarkan kengerian yang terjadi di seluruh negeri. Terutama, meringkas kekejaman massal yang baru-baru ini terjadi di Suriah dan menewaskan ratusan warga sipil.

Organisasi di bawah naungan PBB tersebut, merilis 10 baris kosong dengan tanda kutip yang menunjukkan teks yang hilang diikuti dengan sedikit catatan penjelasan. Pada kalimat awal tertulis, “Tidak ada kata-kata yang cukup untuk anak-anak yang terbunuh, ibu mereka, ayah mereka dan orang-orang yang mereka cintai.”

“UNICEF mengeluarkan pernyataan kosong ini. Karena kami tidak lagi memiliki kata-kata untuk menggambarkan penderitaan anak-anak dan kemarahan kami,” terang UNICEF.

“Apakah orang-orang yang menimbulkan penderitaan masih memiliki kata-kata untuk membenarkan tindakan barbar mereka?” imbuhnya.

Pernyataan tersebut dirilis setelah serangan udara Suriah dan Rusia di Ghouta Timur. Serangan itu menyebabkan lebih dari 100 warga sipil tewas. Disusul pada hari kedua berturut-turut. Hingga menyebabkan rumah sakit tidak dapat beroperasi lagi.

Observatorium Hak Asasi Manusia untuk Suriah merilis, dimulai pada hari Ahad (18/2/2018) waktu setempat, sedikitnya 250 warga sipil telah terbunuh sejak eskalasi tersebut. Lima puluh delapan di antaranya adalah anak-anak.

Sedangkan 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka. Setidaknya, ada 10 rumah sakit di Ghouta Timur telah mengalami kerusakan akibat serangan udara dan pemboman.

Periset Suriah Amnesty International Diana Semaan mengatakan, pemerintah Suriah, dengan dukungan Rusia, telah sengaja menargetkan rakyatnya sendiri di Ghouta Timur.

“Orang-orang tidak hanya menderita karena pengepungan selama enam tahun terakhir. Lebih dari itu, sekarang mereka harus menghadapi berbagai serangan setiap hari. Ini adalah sebuah kejahatan perang yang nyata,” tuturnya, , seperti dilansir News Rabu (21/2/2018).

Selama enam tahun, dunia Internasional telah menyaksikan pemerintah Suriah melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan. Staf medis melaporkan, pemerintah Suriah tidak mengizinkan persediaan medis atau obat-obatan. Sehingga, saat ini mereka kekurangan pasokan medis.

“Sulit bagi petugas kesehatan untuk bergerak karena mereka turut menjadi sasaran,” ungkapnya.

Salah satu warga sipil Suriah mengisahkan kekejaman yang terus berlanjut di negaranya. Dia adalah Abdelrahman Shahin, seorang penduduk Damaskus berusia 31 tahun. Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba sebuah ledakan menghancurkan sebuah taksi di dekatnya. Hingga pengemudi bersama penumpangnya tewas saat itu juga.

“Hari yang penuh darah. Pengemudi itu sedang mencari nafkah, keluarganya pasti sedang menunggunya,” tandasnya. (Vina)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here