Umat Islam Harus Ber-Tauhid Secara Tuntas

468
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Yogyakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, umat Islam harus ber-tauhid secara tuntas.

Haedar menjabarkan bahwa tauhid itu melahirkan unitas-unitas yang pusatnya pada Allah SWT, tapi bukan Allah SWT yang diteosentriskan semata. Melainkan Allah SWT yang juga melahirkan antroposentrime, Allah SWT yang melahirkan ihsan, Allah SWT yang mengajari ihsan. Juga dalam Islam tidak boleh menegasikan penggunaan akal budi dan hati.

“Pesan dari KH Ahmad Dahlan, orang yang akal budinya sehat atau ulil albab ialah orang yang mau menerima opini, pemikiran, proposisi, postulat atau apa saja yang kemudian dia olah dan kemudian diambil yang terbaik untuk diamalkan,” kata Haedar, seperti dikutip dari Muhammadiyah, Selasa (22/10/2019).

Sebagai kebutuhan dasar hidup manusia, akal budi oleh Muhammadiyah dipakai sebagai alat untuk memahami ajaran Islam yang meliputi pada aqidah, ibadah, muamalah duniawiyah yang dikontekstualisasikan menjadi amalan Islam yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam itu sendiri.

Terkait penggunaan akal budi juga tertuang dalam poin ketiga di Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM).

“Jadi kalau kita sekarang ini orang Muhammadiyah takut menggunakan akal pikiran, itu berarti tidak sesuai dengan MKCH. Atau kurang membaca, dan kalau juga takut dengan akal pikiran berarti belum bisa menerima wahyu pertama secara utuh,” tutur Haedar.

Sehingga, dalam melihat teks tidak bisa hanya secara parsial sebagai teks (bayani) semata. Melainkan diperlukan insturmen pendukung, yaitu burhani (konteks) dan irfani (hati suci).

Menyelami surat Al Alaq pada ayat-ayat awal, Ia menjelaskan bahwa manusia tetap tidak boleh lepas dari koridor utama yaitu kesadaran bahwa dia diciptakan dan sebagai hamba atau mahluk tidak boleh berlaku sembarangan dengan melawan yang menciptakan.

“Biarpun dalam sejarah Islam ilmu ini sempat jadi problem bahkan setelah minhah Baghdad, dimana setelah rezim bertukar, akal pikiran sempat diharamkan dalam islam. Bahkan  ada jargon barang siapa yang bermantik/berlogik dia menjadi zindiq. Itu ada dalam sejarah Islam, akan tetapi habis itu ada perubahan lagi. Lalu Islam menjadi ilmu peradaban baru, dari situlah ilmu filsafat dan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi Iqra’ berkembang dalam tradisi keilmuan islam,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here