Ulama Betawi Abdul Hayyie Nai’m Meninggal Dunia, Ini Profil Singkatnya

243

Jakarta, Muslim Obsession – Kabar duka, ulama kharismatik dari tanah Betawi, KH. Abdul Hayyie Nai’m meninggal dunia. Ia telah berpulang ke pangkuan Allah Yang Maha Esa pada Selasa (29/12/2020) di Jakarta karena sudah lama mengalami sakit.

Nama Abdul Hayyie Nai’m sangat kenal dikenal di Betawi. Ia termasuk salah satu ulama yang disegani, sahabat karib Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sekaligus murid kesayangan KH. Idris Kamali yang pernah belajar di Tanah Arab.

KH. Abdul Hayyie Nai’m lahir pada tahun 1940 di Cipete, Jakarta Selatan. Beliau merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan KH. Muhammad Na’im, ulama asli Cipete dengan Hj. Mardhiyah, yang berasal dari Mampang.

Masa kecil KH. Abdul Hayyie Nai’m dihabiskan dengan belajar bersama orang tuanya di Cipete, Jakarta Selatan. Selepas Madrasah Ibtidaiyah, ia pun kemudian melanjutkan ke Raudhatul Muta’alimin Mampang, yang diasuh ulama kenamaan Betawi KH. Abdur Razaq Ma’mun.

Setelah selesai belajar dengan KH. Abdul Razaq, Abdul Hayyie, yang baru berusia 14 tahun, melanjutkan pendidikannya dengan nyantri ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Meski masih terbilang kecil, Abdul Hayyie berangkat ke pesantren hanya bersama kawannya, tanpa ditemani orangtua. Bahkan saat masuk pesantren yang saat itu diasuh KH. Abdul Khaliq Hasyim, ia hanya memakai celana pendek. Maka, tak ayal, ia disambut dengan sorak-sorai santri-santri lain, sementara ia sendiri kebingungan karena tak mengerti bahasa Jawa.

Enam bulan pertama, ia mengaku baru berusaha menyesuaikan diri dengan suasana pesantren. Atau, menurut istilahnya, mondok-mondokan.

Baru pada bulan ketujuh, ayahnya datang untuk memasrahkannya kepada para pengajar Tebuireng. Secara khusus ia juga dititipkan kepada KH. Idris Kamal, menantu Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, yang berasal dari Cirebon.

Awalnya, Abdul Hayyie, yang berteman akrab dengan Gus Hakam, putra KH. Kholiq, pengasuhnya, mengikuti pengajian dengan sistem bandongan, guru membacakan sebuah kitab dan para santri menyimak sambil memberi catatan makna di kitabnya masing-masing.

Setelah dua tahun, Kiai Idris, gurunya, menyuruh Abdul Hayyie mengaji dengan sistem sorogan, santri membaca dan menguraikan makna kitab sedangkan sang guru hanya mendengarkan sambil sesekali mengoreksi.

“Kalau kamu ngaji bandongan, yang akan tambah pandai itu guru kamu,” nasihat Kiai Idris waktu itu. “Sedangkan dengan sorogan, kamulah yang akan aktif dan bertambah pandai,” Secara khusus, Kiai Idris menyediakan waktu baginya untuk mengajukan sorogan.

Murid Kesayangan KH. Idris Kamali
KH. Abdul Hayyie Nai’m adalah salah satu santri yang sangat diistimewakan dan disayangi oleh KH. Idris Kamali. Dalam beberapa kisah yang diceritakan, misalnya, setiap kali makan malam, Kiai Idris selalu menyisakan separuh dari sepiring porsi yang disantapnya.

Menjelang tengah malam, santri yang sudah dianggap putra sendiri itu dipanggil dan disuruh menghabiskan sisa makan malam dari piring gurunya tersebut. Dalam tradisi pesantren, makanan sisa guru ini dianggap membawa berkah tersendiri.

Belakangan, Abdul Hayyie juga dipercaya mengurus berbagai hal pribadi sang guru, termasuk urusan cuci pakaian, atau, untuk pakaian-pakaian tertentu, laundry. Bahkan ia dibelikan gunting cukur dan diminta untuk belajar memangkas rambut dengan KH. Idris sebagai modelnya. Selama kurang lebih empat tahun, Abdul Hayyie menjadi tukang cukur kiainya itu.

Saking sayangnya, kiai yang hanya memiliki seorang putra itu juga mencukupi seluruh kebutuhan Abdul Hayyie di pesantren. Hayyie juga dilarang terlalu sering pulang.

“Kamu pulang mau apa? Kalau kamu kangen pada orangtuamu, saya akan minta mereka datang kemari. Kalau kamu butuh uang, saya beri. Kamu butuh pakaian, saya belikan,” ujar ayah angkatnya itu setiap kali Abdul Hayyie pamit pulang.

“Maka saya pernah dua tahun lebih tidak pulang dari pesantren he he he,” tutur Kiai Abdul Hayyie. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here