Ukhuwah Islamiyah

233

Surat Al-Hujurat 10-14 ini menarik. Ia bicara tentang ukhuwah Islamiyah dan seluk beluknya. Dalam ayat 10 dikatakan “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara.” Di ayat itu –sebagaimana diungkap tokoh kita, Mohammad Natsir- menggunakan lafadz Innamal mu’minuuna ikhwatun. Bukan innamal muslimuuna ikhwatun. Jadi yang bersatu itu orang-orang mukmin, bukan orang-orang Islam. Kenapa? Karena makna iman lebih tinggi daripada Islam. Orang bisa sudah Islam, tapi belum beriman. Karena orang menjadi Islam, bisa karena keturunan, pura-pura dan lain-lain.

Lebih jelas lagi tafsir ayat 10 itu dikaitkan dengan ayat 14. Yaitu Allah mengecam orang-orang Arab yang menyatakan dirinya Muslim. Allah jelas menyatakan,” Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Di ayat 11-12 ini Allah SWT melarang kita berprasangka buruk kepada orang lain. Ini berbeda dengan dunia intelijen sekarang yang dikuasai Barat. Dimana dalam dunia intelijen yang ada adalah prasangka buruk, prasangka bahwa manusia ‘di belahan bumi lainnya’ akan membuat kerusakan. Prasangka bahwa di sana manusia akan selalu berbuat buruk dan seterusnya. Islam mendulukan ‘husnudhan’ (prasangka baik) daripada ‘suuddhan’ (prasangka buruk). Dengan prasangka baik, maka orang akan selalu mencari teman. Dengan prasangka buruk, maka orang akan selalu mencari musuh.

Ayat ini juga langsung menyebut perempuan, karena perempuan biasanya suka ngobrol, menggunjing dan suka berprasangka padahal faktanya belum jelas. Ayat 12 ini juga memberikan ilustrasi yang keras: ‘Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.’ Dan diakhiri dengan : ‘Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.’ Di sini seolah-olah diungkapkan bahwa banyak yang melakukan prasangka dalam hidup ini, maka bertobatlah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat dan Allah Maha Penyayang.’

Di ayat 13 Allah menjelaskan tentang kehidupan manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Untuk apa hidup ini? Untuk berkelahi, bermusuhan atau untuk bersaudara? Al-Quran jelas menyatakan ‘litaaarafuu’, untuk saling mengenal. Dengan saling mengenal, maka orang akan saling memahami. Dengan memahami, maka orang akan bekerjasama menyelesaikan masalah-masalah hidupnya.

Beda dengan pandangan hidup Barat yang sekuler, melihat manusia lain ‘seperti musuh’. Sehingga mereka membuat senjata-senjata yang canggih untuk memperkuat militernya, membuat industri intelijen yang canggih untuk menyadap musuhnya dan seterusnya. Dan pandangan seperti ini ditularkan ke dunia Islam, dan parahnya pemimpin-pemimpin dunia Islam mengikutinya. Dilemparkan jargon-jargon yang menipu seperti ‘kalau ingin damai, maka harus siap perang’, kalau negara lain canggih teknologinya kita harus canggih pula karena tidak tahu suatu saat negara itu akan menyerbu kita dan seterusnya.

Kita tahu bahwa pusat pendidikan militer dan intelijen adalah Amerika. Dan negara ini kita tahu dikuasai oleh pandangan Yahudi-Kristen. Di sini para perwira militer di dunia Islam itu dididik dengan pluralisme, ancaman radikalisme, ancaman fundamentalisme dan lain-lain.

Maka jangan heran ketika mereka kembali ke negaranya –dan menjadi pemimpin negara itu, mereka menjadi corong kepentingan Amerika. Dan negara besar ini dari jauh terus memantau pribadi-pribadi yang dididiknya itu, membantunya dengan data-data intelijen, membantunya dengan dana besar dan seterusnya. Dengan gurita militer dan intelijen inilah Amerika menguasai dan mengendalikan dunia.

Bagaimana dengan media massa? Media massa kebanyakan awaknya bekerja bukan karena idealisme, tapi karena uang. Para wartawan mudah ditundukkan dengan uang dan intelijen (juga para pemilik modal) tahu persis hal ini. Hanya sedikit di dunia ini wartawan bekerja karena idealisme. Mereka yang bekerja tanpa kenal lelah menginginkan dunia yang lebih baik, menginginkan dunia yang adil dan makmur.

1
2
3
4
5
6
7
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here