Tujuh Alasan Peringati Maulid Nabi Muhammad

107
Habib Luthfi bin Yahya (Foto: jatman)

Muslim Obsession – Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, berpesan agar umat Islam membiasakan diri untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan menurut Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) tersebut, bershalawat harus dilakukan dengan penuh semangat, tidak boleh malas-malasan.

“Membaca shalawat jangan malas-malas, bershalawat harus penuh dengan semangat,” ujar Habib Luthfi, seperti dilansir Cahaya Tareem, Rabu (30/9/2020).

Bershalawat merupakan tanda cinta seorang umat kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula dengan gelaran Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan tanda hormat dan cinta kepada makhluk Allah yang paling mulia.

Menurut beliau, sedikitnya ada tujuh keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. yang tidak sekadar menjadi kegiatan rutinitas.

Pertama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa muda sebelum masa kerasulan, telah mendapat gelar Al-Amin dari para pemuka kaum Quraisy pada peristiwa peletakan Hajar Aswad di Mekkah.

Kedua, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan satu-satunya nabi dan rasul yang kewilayahannya meliputi seluruh dunia, sedangkan nabi atau rasul lain hanya wilayah tertentu saja.

Ketiga, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah dipanggil hanya dengan namanya saja oleh Allah subhanahu wa ta’ala seperti nabi-nabi lain, melainkan beliau dipanggil dengan gelar-gelarnya, di antaranya Thaha, Ya Muzammil, Ya Mudatsir, Yasin, dan lain sebagainya.

Keempat, nabi atau rasul lain hidup satu zaman. Misalnya Nabi Daud dengan Nabi Sulaiman, Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, sedangkan zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya beliau Saw. saja yang tidak ada rasul lainnya yang hidup satu zaman dengannya.

Kelima, yatimnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa tarbiyah (pendidikan) Al-Quran langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala bila washithah (tanpa perantara), bukan seperti yatim orang pada umumnya.

Keenam, Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan pencipta alam semesta dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (QS. Al-Ahzab: 56). Dikuatkan dalam riwayat Ibnu Majah: “Bershalawatlah kamu kepadaku, karena shalawat itu menjadi zakat penghening jiwa dan pembersih dosa bagimu.”

Ketujuh, adanya Al-Quran (nuzulul Quran), peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dan lain-lainnya berawal dari lahirnya Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kekasih Allah subhanahu wa ta’ala.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here