Tudingan Wahabi Terhadap Muhammadiyah

2003
Paham Wahabi
Ilustrasi paham Wahabi: satuislam.org

Jakarta, Muslim Obsession – Istilah Islam Wahabi sering kali diartikan sebagai kelompok atau golongan yang memiliki aliran garis keras dalam mempraktikan ajaran agama. Sebab, pemahaman mereka tentang agama dianggap terlalu tekstual. Di Indonesia sendiri paham Wahabi sudah merasuk di jantung hati masyarakat.

Bahkan pemahaman Wahabi kerap diasoiasikan ke salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah, meski Muhammadiyah secara kelembagaan tidak pernah menyatakan penganut paham Wahabi. Mengapa image wahabi muncul terhadap Muhammadiyah?

Salah seorang Profesor National University of Singapore (NUS), Azhar Ibrahim menyatakan, stigma itu muncul karena Muhammadiyah hanya dikenal sisi puritan atau pemurniannya saja, yang cenderung keras dan anti budaya. Padahal sebagai ormas Islam asli Indonesia Muhammadiyah perlu menunjukkan sisi kultural yang ramah dan bersinergi dengan budaya lokal.

“Menunjukkan sisi intelektual dan kultural Muhammadiyah sangat penting. Muhammadiyah sering dianggap anti kultural, bahkan dipersepsikan dekat dengan Wahabi,” kata Prof Azhar Ibrahim, Guru besar National University of Singapore, saat berkunjung di Kantor Suara Muhammadiyah di Yogyakarta belum lama ini.

“Orang tahu Muhammadiyah itu anti TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Atau paling-paling tahu Kyai Ahmad Dahlan membuat sekolah dan hospital (Rumah Sakit),” tutur Azhar.

Namun di balik itu, masyarakat tidak banyak tahu tentang theology social atau theology al-Maun yang dikembangkan oleh Kyai Dahlan atau Muhammadiyah sampai sekarang. Sehingga ada gap dengan realitas yang ada.

Menurut Azhar, Muhammadiyah di pulau Jawa sangat tidak identic dengan Wahabi. Namun masyarakat secara umum cenderung mengenal Muhammadiyah dari buku-buku karya orientalis semisal James Peacock (University of North Carolina, AS) yang merekam salah satu sisi Muhammadiyah yang puritan.

Tanpa membandingkan dengan penelitian lainnya, semisal ‘Muhammadiyah Jawa’ karya Ahmad Najib Burhani. Azhar juga menyatakan bahwa Muhammadiyah perlu memperkaya ranah sastra. “Muhammadiyah dalam sastra tidak ada representasi,” katanya.

Menurutnya, ke depan penting untuk menunjukkan diri dan dakwah Muhammadiyah dalam sastra semisal yang dilakukan oleh Buya Hamka dan Kuntowijoyo melalui novel dan cerpen-cerpennya. Sebab dia percaya Muhammadiyah yang diajarkan Ahmad Dahlan adalah organisasi yang tidak mengesampingkan budaya. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here