Tokoh Muslim di Film “The Big Sick” dan “Ms Marvel” Dikritik 

1019
Ms Marvel saat melawan Spiderman (Photo: Istimewa)

Muslim Obsession – Muslim Amerika mengkritik tokoh muslim di film the Big Sick dan Ms Marvel. The Big Sick itu sendiri adalah sebuah film yang dinominasikan piala Oscar tahun ini, dengan ketegori untuk naskah asli terbaik.

Ms Marvel, ciptaan Sana Amanat dan Stephen Wacker, muncul kali pertama dalam komik Captain Marvel edisi 14 pada 2013. Namun, ia baru debut komik solonya pada Februari 2014 lalu.

Ms Marvel bernama asli Kamala Khan, adalah seorang remaja Muslimah Amerika berdarah Pakistan berusia 16 tahun yang tinggal di New Jersey, AS. Ia punya kemampuan mengubah dan menyembuhkan diri. Kamala diketahui begitu mengagumi dan banyak terinspirasi dari Captain Marvel.

“Semuanya berkontribusi pada apa yang orang-orang bilang sebagai “Renaisans Muslim Amerika Hollywood,” tuturnya. Namun, para tokoh kritikus muslim Amerika, mengatakan sebaliknya.

“Justru pada film tersebut, Muslim telah menjalankan perannya sebagai teroris yang fanatik, tanpa ampun,” tutur Abdul Jabbar, salah satu kritikus film tersebut, dikutip Minnesota, Senin (12/3/2018).

Sedangkan Film The Big Sick adalah sebuah film bergenre komedi drama yang diadaptasi dari kisah nyata dari pemeran utamanya sendiri, Kumail Nanjiani. Bersama istrinya, Emily Gordon, mereka mengadaptasi kisah hidup mereka untuk diangkat ke layar lebar.

Kumail yang juga menulis skenarionya membawakan perannya seotentik mungkin. Hasilnya, ia mampu membangun chemistry dengan lawan main Zoe Kazan yang memerankan sosok Emily. Tetapi, Abdul Jabbar, mengatakan The Big Sick adalah cerita film biasa.

“Ini adalah komedi romantis yang agak tradisional, laki-laki bertemu wanita. Tapi apa yang membedakan film ini di mata kritikus, adalah bagaimana ia menggambarkan keluarga Muslim Amerika yang rata-rata melakukan hal-hal normal di Amerika,” katanya.

The Big Sick, menurutnya, tidak berbeda dengan karya film lainnya. Di mana menampilkan aktor protagonis Muslim Amerika. Seperti karakter Aziz Ansari dalam “Master of None,” atau Kamala Khan, karakter utama dalam buku komik “Ms. Marvel”.

Menurutnya, itulah yang orang Amerika lihat di film dan acara televisi. Itulah citra umat Islam yang masih dimiliki banyak orang Amerika. Bahkan dengan banyak penggambaran positif baru-baru ini tentang orang-orang Amerika-Muslim dalam seni, dibutuhkan waktu untuk mencari gambar.

“Kami mengundang tiga seniman, aktivis dan ilmuwan Muslim lokal untuk membicarakan pentingnya film seperti “The Big Sick.” Ternyata tak satu pun dari mereka yang terkesan,” ujarnya.

Kritikus lainnya, Ali Elabbady memiliki masalah dengan karakterisasi keluarga Nanjiani di Pakistan.

“Setiap kali dia bersama keluarganya, aksennya ditata super, sangat tebal,” kata Elabbady, seorang penulis, produser dan DJ.

“Saya merasa sangat sakit menyaksikannya,” kata Qais Munhazim, direktur Pusat Gender dan Seksualitas di University of Minnesota.

Munhazim merasa risih dengan sebuah adegan film, di mana karakter Nanjiani membakar setumpuk foto wanita Pakistan yang memenuhi syarat yang telah diusahakan ibunya untuk Nanjiani.

Kritikus lain mengatakan The Big Sick adalah gambaran muslim sekuler. Hal ini digambarkan pada salah satu adegan Nanjiani yang ditegur orangtuanya melaksanakan shalat. Lalu ia pergi ke kamar, menggelar sajadah lalu bermain game di ponselnya.

Tidak hanya itu, ada sebuah adegan Nanjiani dan kekasihnya Emiliy tidur bersama di satu ranjang. Hal ini menuai kontra di kalangan muslim Amerika.

Nanjiani adalah seorang muslim asal Pakistan yang mencintai Emily, wanita asli Amerika. Hubungan keduanya tidak disambut hangat oleh keluarga Nanjiani. Para tokoh muslim menilai film ini bukan representasi bagus Muslim di Amerika.

Apalagi di sisi lain, orangtua Nanjiani, Azmat dan Sharmeen, yang diperankan oleh Anupam Kher dan Zenobia Shroff. Dua karakter tersebut mewujudkan setiap stereotip yang bisa dibayangkan tentang orangtua Muslim yang sombong, kecewa dengan kekasih anaknya keturunan Amerika.

Orangtua Nanjiani muncul hampir secara eksklusif dalam adegan di mana mereka mengundang Emily untuk makan malam keluarga. Dengan harapan ia mungkin jatuh cinta pada mereka. Emily juga tampil tanpa backstory atau dialog yang sangat sedikit, karena berpegangan pada tradisi kuno.

Dalam satu adegan kritis dalam film tersebut, saat Nanjiani berdebat dengan Emily tentang kelangsungan hubungan mereka, dia berteriak, “Saya sedang berjuang melawan budaya berusia 1.400 tahun!(Islam)” (Vina)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here