Tips Meredam Amarah yang Bergolak Menurut Imam Al-Ghazali

80
Ilustrasi: Orang sedang marah.(Foto: mensline)

Muslim Obsession – Mengendalikan amarah pada diri manusia bukanlah hal yang mudah. Banyak yang tidak bisa mengontrol amarahnya hingga melakukan sesuatu yang merugikan bahkan melukai orang lain.

Dikutip dari laman resmi nu.or.id., Senin (3/1/2022) Imam Al-Ghazali menulis tips yang bisa menjadi pedoman bagi orang yang sedang marah agar tidak berbuah penyesalan.

Al-Ghazali mengatakan, penekan amarah dan api amarah tidak lain adalah ilmu dan amalan tertentu. Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu dan amal dapat mengatasi api amarah yang berkobar di hati seseorang.

Ilmu dan amalan tertentu, semacam terapi kejiwaan, dapat memadamkan api amarah yang berkobar di hati).

Obat yang bisa meredam amarah yang mengamuk itu tidak lain adalah ilmu dan amalan tertentu” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 178 ).

Imam Al-Ghazali mengatakan, kejahatan amarah yang bergejolak dan bergejolak dapat dipadamkan dengan dua pendekatan, yaitu ilmu dan amal. Imam Al-Ghazali menyebutkan enam pendekatan ilmiah yang dapat ditempuh:

1. Mengingat Al-Quran dan hadits tentang keutamaan menahan amarah

Keinginan untuk mengutamakan pahala menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, menerima kekurangan orang lain semoga dapat mencegahnya melampiaskan amarahnya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah dibuat naik pitam oleh salah seorang warganya. Dia kemudian meminta ajudannya untuk memukul pelaku.

Namun warga justru membaca Surat Ali Imran ayat 134 yang memuat ciri-ciri orang shaleh, salah satunya adalah orang yang menahan amarah. Dia kemudian menahan ajudannya, “Tunggu, biarkan dia.”

2. Takutlah pada diri sendiri dengan murka Tuhan dengan berkata dalam hati, “Kekuatan Tuhan pada saya lebih besar daripada kekuatan saya pada orang (melakukan perbuatan).

Jika aku melampiaskan amarahku padanya, aku takut Tuhan akan melampiaskan murka-Nya padaku. Sedangkan aku lebih membutuhkan pengampunan-Nya.”

Dalam kitab suci sebelumnya Allah berfirman, “Anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Kumurka.”

3. Mengingatkan diri akan dampak permusuhan dan konflik berkepanjangan di dunia jika tidak takut pada akhirat

4. Renungkan keburukan rupanya saat marah

Manusia yang melampiaskan amarahnya akan berubah menjadi bentuk lain, yaitu anjing liar dan binatang buas lainnya.

Sedangkan manusia yang mampu mengelola amarahnya menjadi manusia yang mulia seperti para nabi, wali, ulama, dan orang bijak lainnya. Dia bisa memilih untuk menjadi binatang atau makhluk mulia seperti para nabi dan orang suci lainnya.

5. Takut pada dirinya sendiri dengan kemarahan itulah penyebab hukuman Tuhan

Sementara iblis terus mempropagandakan dan membujuk bahwa jika dia tidak marah, orang akan meremehkan dan menghinanya. Sedangkan menahan luapan amarah harus ditujukan demi Allah.

Sedangkan di akhirat nanti, orang-orang yang menahan amarah akan dipanggil untuk diberi pahala yang besar, “Siapakah di antara kamu yang mengharapkan pahala Allah dengan menahan amarah? Silakan berdiri! ”

6. Ingatkan diri Anda bahwa murka Tuhan yang berlaku terhadap sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak-Nya sendiri.

Bagaimana dia bisa berkata, “Kehendak saya lebih penting daripada kehendak Tuhan.” Sedangkan murka Allah lebih besar dari murka-Nya. Adapun amalan yang dilakukan berupa shalat agar Allah menenangkan amarah yang menguasai suasana batin seseorang, berwudhu, duduk jika sebelumnya dalam keadaan berdiri atau sujud jika sebelumnya dalam posisi duduk. “Jika sedang marah, diamlah,”

Rasulullah SAW berpesan kepada Ibnu Abbas ra untuk tidak melakukan tindakan yang menyinggung dan membangun.

Demikianlah perbuatan yang dapat dilakukan ketika api amarah membakar dada seseorang. Dia harus mengendalikan diri dan mengingat (penghinaannya) bahwa dia sebenarnya tidak pantas untuk melampiaskan amarahnya.

Pertanyaan “Siapakah kita?” di tengah kekurangan dan kehinaan diri kita layak dikedepankan saat kita marah karena hanya substansi Allah yang berhak melakukannya di tengah kebesaran, kesempurnaan, dan kuasa-Nya.

Wallahu A’lam bish Shawab..

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here