Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

355

Jakarta, Muslim Obsession – Seorang ulama besar yang dijuluki Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam karyanya Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama adalah puasanya orang awam, puasanya orang khusus, dan puasanya orang paling khusus.

Yang dimaksud puasa umum/awam ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

“Ini hampir kebanyakan manusia hanya sebatas melaksanakan puasa jenis ini. Puasa hanya sebatas menahan syahwat tidak makan tidak minum dan tidak bersetubuh,” ujar dosen tasawuf UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Fahruddin Faiz.

Tingkatan puasa selanjutnya adalah puasa khusus. Puasanya orang-orang shalih. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa.

Selain memperhatikan aspek fisik, puasa khusus juga berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

“Puasanya orang khusus ini lebih maju di atasnya puasanya orang awam. Mereka sudah bisa menjaga seluruh panca indra mereka untuk tidak melakukan hal yang tidak baik. Kesadaran bahwa puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus sudah muncul,” jelasnya.

Orang yang berada pada tingkat khusus memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diinginkan oleh anggota tersebut. Tujuan untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya adalah ketenangan batin.

“Orang ini sudah masuk katagori orang alim, para Wali Allah sudah masuk dalam katagori ini, sebagai pintu gerbang untuk masuk ke tahap selanjutnya,” katanya.

“Karena puasa di tingkatan ini, mereka bisa menjaga mulutnya dari menjelekan orang, menyakiti orang, matanya juga digunakan untuk hal yang baik-baik. Semua panca indara ia bawa untuk mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.

Tingkatan puasa yang terakhir adalah puasa khususul khusus atau puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT.

Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Puasa khususul khusus hanya bisa dicapai oleh anbiya (para Nabi), shiddiqin, serta auliya’. Umat Islam ingin sampai pada tahap ini harus melalui dua tahap puasa yang sebelumnya. Pada tingkat khususul khusus, kesadaran untuk menahan nafsu tidak hanya sampai pada batas lahiriah namun juga sampai pada hati dan batin.

Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya.

“Puasanya paling khusus ini puasanya para Nabi para kekasih Allah. Para Auliya. Mereka bukan hanya mampu menjaga panca indra, tapi hatinya sudah tidak terbesit lagi untuk berbuat kejelekan. Jadi niat buruk saja mereka tidak punya apalagi sampai melakukan,” ucapnya.

“Nafsu hati dan pikirannya bener-benar terjaga. Berpikir saja nanti mau buka puasa sama apa? Itu bagi mereka sudah batal. Karena sudah ada nasfu di situ, sudah terbesit makanan dalam pikirannya. Bukan lagi Allah dalam pikiran dan hatinya. Orang kalau sudah berpikir nanti buka makan sama apaya? Saur sama apaya? Itu bagi mereka puasanya orang khususul khusus sudah batal. Karena sama saja dia tidak yakin dengan rezekinya Allah,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here